CLICK at HOME…If it said this blog does not exist.

Friday, 28 October 2011

10 Sahabah r.a. Yang Dijamin Masuk Syurga


10 Sahabah r.a. Yang Dijamin Masuk Syurga

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”
(Qs At-Taubah : 100)

Berikut ini 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).

1. Abu Bakar Siddiq ra.
Beliau adalah khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah Saw. Selain itu Abu bakar juga merupakan laki-laki pertama yang masuk Islam, pengorbanan dan keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga didalam Quran
(Surah At-Taubah ayat ke-40)

sebagaimana berikut : “Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. 

Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Abu Bakar Siddiq meninggal dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadits.

2. Umar Bin Khatab ra.

Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. 

Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat. Dijaman kekhalifaannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkannya dalam waktu hanya satu tahun. 

Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

3. Usman Bin Affan ra.

Khalifah ketiga setelah wafatnya Umar, pada pemerintahannyalah seluruh tulisan-tulisan wahyu yang pernah dicatat oleh sahabat semasa Rasul hidup dikumpulkan, kemudian disusun menurut susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw sehingga menjadi sebuah kitab (suci) sebagaimana yang kita dapati sekarang. Beliau meninggal dalam umur 82 tahun (ada yang meriwayatkan 88 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

4. Ali Bin Abi Thalib ra.

Merupakan khalifah keempat, beliau terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib juga terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersama Beliau sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya. Ali Bin Abi Thalib meninggal dalam umur 64 tahun dan dikuburkan di Koufah, Irak sekarang.

5. Thalhah Bin Abdullah ra.

Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

6. Zubair Bin Awaam

Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra, ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan. Beliau pun gugur dalam perang Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64 tahun.

7. Sa’ad bin Abi Waqqas

Mengikuti Islam sejak umur 17 tahun dan mengikuti seluruh peperangan, pernah ditawan musuh lalu ditebus oleh Rasulullah dengan ke-2 ibu bapaknya sendiri sewaktu perang Uhud. Meninggal dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

8. Sa’id Bin Zaid

Sudah Islam sejak kecilnya, mengikuti semua peperangan kecuali Perang Badar. Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh rasul untuk memata-matai gerakan musuh (Quraish). Meninggal dalam usia 70 tahun dikuburkan di Baqi’.

9. Abdurrahman Bin Auf

Memeluk Islam sejak kecilnya melalui Abu Bakar Siddiq dan mengikuti semua peperangan bersama Rasul. Turut berhijrah ke Habasyah sebanyak 2 kali. Meninggal pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun), dimakamkan di baqi’.

10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah

Masuk Islam bersama Usman bin Math’uun, turut berhijrah ke Habasyah pada periode kedua dan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Saw. Meninggal pada tahun 18 H di urdun (Syam) karena penyakit pes, dan dimakamkan di Urdun yang sampai saat ini masih sering diziarahi oleh kaum Muslimin.

Add starShareShare with noteKeep unreadSend to

    Kesesatan Sufi: Contoh Orang Sufi (Yang Sakit Tetapi?) Mengubat Orang


    Update: Ada yang mencemuh aku dan kata aku jahil. Jika kalian baca betul-betul, aku ajukan soalan dan pertanyaan. Orang jahil memang kena bertanya. Aku bukannya lulusan Jordan atau Syria. Aku tidak berserban Besar dan aku tidak berjoget ketika berzikir. Tidak pula aku pernah mendengar cikgu aku atau ustaz yang aku sering dengari kuliahnya atau buku- buku yang aku baca menceritakan FADHILAT ZIKIR SAMBIL MENARI? Kalau kalian ada, dedahkan. 


    Ada pula yang kata "Sufism basically is the Inner Dimension of Islam". Siapa kata tu? Al Quran? Rasulullah SAW? Sahabah Radiallahuanhum Ajmain?

    Bagi aku, isunya mudah. tak kiralah serban kalian tinggi sampai cecah langit, ijazah kalian sampai tujuh lapan macam; selagi hujah kalian tanpa nas / dalil dari Qalamullah atau Al-Sunnah, ia akan dianggap IRRELEVANT.

    Aku bukan mencari musuh..Demi Allah. Aku mencari kebenaran. Aku yakin apa yang aku tulis tidak salah dan sanggup menangung dan menjawabnya di depan Allah Azza wa Jal.

    Wallahua'lam.

    (nota kepala ini akan aku titip diatas setiap posting aku berkaitan Sufisme) 

    ____________________________________________________________

    posting asal:

    Dari pembacaan aku, perkara yang ada dalam benda-benda sufi ni adalah "diada-adakan" dan dikhuatiri menjurus kepada kesesatan. Yang paling sedih, apabila munajat ahli sufi bukan pada Allah Azza Wa Jal tetapi pada Tok Syeikh nya. 



    Ibadatnya luar biasa, semalaman bermunajat pada Sang KEKASIH... Senyumannya amat mendamaikan layak menjadi penenang jiwa.... Itulah guru kami; anak raja berjiwa rakyat....(sumber)


    Mungkin ahli sufi ini silap penggunaan perkataan (aku bersangka baik). Kalau ikut Kamus Indonesia, Munajat ertinya doa sepenuh hati kpd Tuhan untuk mengharapkan keridaan, ampunan, bantuan, hidayat, dsb;(sumber). Dan takde pula makhluk bermunajat pada makhluk.

    Beilau seorang pengamal perubatan yang juga seorang ahli sufi menyebut "InsyaAllah" tetapi memohon IZIN SYEIKH dia dahulu. Bukankah tawakkal kepada Allah Taala itu adalah perkara paling penting dalam menuju keimanan yang jitu?

    Apa guna 17 kali sehari membaca Surah Al-Fatihah , ayat kelima yang membawa maksud "Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan."? tetapi masih meletak makhluk lebih tinggi dari Allah Azza Wa Jal?


    Allah itu dekat dan mendengar, tidak perlu perantara. Firman Allah عزّوجلّ:
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
    “Apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang diriKu,  maka sesungguhnya Aku dekat.” (QS. Al-Baqarah : 186).


    Aku salin dan tampal tulisan blog insan yang aku maksudkan di tajuk posting aku kali ini. Semoga Allah membuka hatinya dan dia bertaubat Nasuha. Pengikutnya yang sudah tersalah, kembali kepada Al-Quran dan Al-Sunnah. Insya Allah.








    Saya pun cium tangan sheikh dengan perasaan yang berbunga-bunga!!!(sumber)


     nota kaki: dakwah ini akan disambung. InsyaAllah.

    Add starShareShare with noteKeep unreadSend to

      Kesesatan Sufi: Berdasarkan Nasihat Imam Mazhab


      Update: Ada yang mencemuh aku dan kata aku jahil. Jika kalian baca betul-betul, aku ajukan soalan dan pertanyaan. Orang jahil memang kena bertanya. Aku bukannya lulusan Jordan atau Syria. Aku tidak berserban Besar dan aku tidak berjoget ketika berzikir. Tidak pula aku pernah mendengar cikgu aku atau ustaz yang aku sering dengari kuliahnya atau buku- buku yang aku baca menceritakan FADHILAT ZIKIR SAMBIL MENARI? Kalau kalian ada, dedahkan. 


      Ada pula yang kata "Sufism basically is the Inner Dimension of Islam". Siapa kata tu? Al Quran? Rasulullah SAW? Sahabah Radiallahuanhum Ajmain?


      Bagi aku, isunya mudah. tak kiralah serban kalian tinggi sampai cecah langit, ijazah kalian sampai tujuh lapan macam; selagi hujah kalian tanpa nas/dalil dari Qalamullah atau Al-Sunnah, ia akan dianggap IRRELEVANT.


      Aku bukan mencari musuh..Demi Allah. Aku mencari kebenaran. Aku yakin apa yang aku tulis tidak salah dan sanggup menangung dan menjawabnya di depan Allah Azza wa Jal.


      Wallahua'lam.

      (nota kepala ini akan aku titip diatas setiap posting aku berkaitan Sufisme) 



      ____________________________________________________________


      posting asal:



      Siapa Abdullah Bin Saba' dan Nasihat Imam-Imam Mazhab 

      Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi dari San’a, Yaman. Dia datang ke Madinah sewaktu pemerintahan Khalifah Uthman bin Affan r.a. dengan berpura-pura sebagai seorang yang alim. Dialah juga perancang terhadap pembunuhan Khalifah Uthman Ibn Affan dan membangkitkan hura-hara dalam kalangan para sahabah Radiallahuanhum Ajmain.

      Munafiqun ini jua yang dikatakan mengasas fahaman Syiah dan Sufi. Malang sekali apabila ada seorang blogger (warikh den lak tu) yang berbakat dari kacamata aku tetapi meletakkan "menyukai apa sahaja perkara berkaitan sufisme". Aku berdoa, dia ada hujah dan sebab kukuh dan bukan ikut-ikutan yang bukan-bukan. Namun, aku tahu dia tak mungkin ada hujah kukuh.

      Abdur  Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus  Shufi  fi Dhauil Kitab was Sunnah menegaskan, tidak diketahui secara  tepat siapa  yang  pertama kali menjadi sufi di kalangan  ummat  Islam.

      Imam  Syafi’i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, “Kami  ting­galkan  kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (menyeleweng; aliran  yang  tidak percaya kepada Tuhan,  berasal  dari  Persia; orang  yang  menyelundup ke dalam Islam,  berpura-pura  –menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan sesuatu  yang  baru yang mereka namakan assama’  (nyanyian).

      Kaum  zindiq  yang dimaksud Imam Syafi’i  adalah  orang-orang sufi. Dan assama’ yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian  yang mereka  dendangkan. Sebagaimana  dimaklumi, Imam  Syafi’i  masuk Mesir tahun 199H.

      Perkataan Imam Syafi’i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal  sebelum  itu. Alasannya, Imam Syafi’i  sering  berbicara tentang mereka di antaranya beliau mengatakan:

      “Seandainya  seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka  siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang dungu.”

      Dia  (Imam Syafi’i) juga pernah berkata: “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu  akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.” (Lihat Talbis  Iblis, hal 371).

      Semua  ini,  menurut Abdur Rahman Abdul  Khaliq,  menunjukkan bahwa  sebelum berakhirnya  abad kedua  Hijriyah  terdapat  satu kelompok  yang  di kalangan ulama Islam  dikenal  dengan  sebutan Zanadiqoh (kaum zindiq), dan terkadang dengan sebutan mutashawwi­fah (kaum sufi).

      Imam Ahmad (780-855M) hidup sezaman dengan Imam Syafi’i  (767-820M),  dan pada mulanya berguru kepada Imam  Syafi’i.  Perkataan Imam  Ahmad tentang keharusan menjauhi orang-orang tertentu  yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang. Di  antara­nya  ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa  ten­tang  perkataan  Al-Harits  Al-Muhasibi  (tokoh  sufi, meninggal 857M). Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

      “Aku  nasihatkan  kepadamu,  janganlah  duduk  bersama  mereka (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi)”.

      Imam  Ahmad  memberi nasihat seperti itu karena  beliau  telah melihat  majlis  Al-Harits  Al-Muhasibi. Dalam  majlis  itu  para peserta  duduk dan menangis –menurut mereka–  untuk  mengoreksi diri. Mereka berbicara atas dasar bisikan hati yang jahat. 

      (Perlu kita  cermati,  kini ada kalangan-kalangan muda  yang mengadakan daurah/penataran atau halaqah /pengajian, lalu mengadakan muhasabatun  nafsi/ mengoreksi diri, atau mengadakan apa yang  mereka sebut renungan, dan mereka menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang meraung-raung. 

      Apakah  perbuatan mereka itu  ada  dalam   sunnah Rasulullah saw? Ataukah memang mengikuti kaum sufi itu?).

      Abad III H Sufi mulai berani, semua tokohnya dari Parsi (Iran).

      Tampaknya, Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu`anhu mengucapkan perkataan tersebut pada awal abad ketiga Hijriyah. Namun  sebelum abad  ketiga  berakhir, tasawuf telah muncul dalam  hakikat  yang sebenarnya,  kemudian tersebar luas di tengah-tengah  umat,  dan kaum sufi telah berani mengatakan sesuatu yang sebelumnya  mereka sembunyikan.

      Jika kita meneliti gerakan sufisme sejak awal  perkembangannya hingga kemunculan secara terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa  seluruh tokoh pemikiran sufi pada abad ketiga dan  keempat Hijriyah berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu pusat  agama Majusi,  kemusyrikan yang menyembah api, kemudian  menjadi  pusat Agama Syi’ah), tidak ada yang berasal dari Arab.

      Sesungguhnya tasawuf mencapai puncaknya, dari segi aqidah  dan hukum, pada akhir abad ketiga Hijriyah, yaitu tatakla Husain  bin Manshur Al-Hallaj berani menyatakan keyakinannya di depan pengua­sa,  yakni  dia menyatakan bahwa Allah menyatu  dengan  dirinya, sehingga  para ulama yang semasa dengannya menyatakan  bahwa  dia telah kafir dan harus dibunuh.

      Pada tahun 309H/ 922M ekskusi (hukuman bunuh) terhadap  Husain bin  Manshur Al-Hallaj dilaksanakan. Meskipun demikian,  sufisme tetap  menyebar  di negeri Parsi, bahkan kemudian  berkembang  di Iraq (sumber)

      Add starShareShare with noteKeep unreadSend to

        Kau Sentuh Hudud, Aku Kritik Warna Berhala




        Tidaklah aku bersetuju dengan pendapat Pengerusi Majlis Fatwa Kebangsaan , Dr Abdul Shukor kerana apa yang difatwakan itu bukanlah suatu Ijmak Ulama.

        Aku memandang kenyataan- kenyataan dari Dr. Abdul Shukor sebagai kenyataan orang yang mengangkat bendera putih sebelum berjihad menentang sang Kuffar di Perang yang jatuh dosa besar jika kita lari darinya.

        Sang Kuffar sudah nampak bahawa kita mengaku kalah dalam perjuangan dan akibatnya mereka juga berani bercakap dan memberi pendapat sealiran dengan Pengerusi Majlis Fatwa Kebangsaan; sebagaimana yang dilaporkan oleh Yahoo hari ini.


        Majlis Perundingan Malaysia Agama Buddha, Kristian, Hindu, Sikh dan Tao menggesa agar debat mengenai pelaksanaan hukum hudud khususnya yang difokus ke atas Kelantan sekarang diadakan secara rasional dan tidak seharusnya bertentangan dengan semangat Perlembagaan Persekutuan.


        Dalam satu kenyataan dikeluarkan hari ini, majlis itu berkata pihaknya berharap semua pihak akan menghormati semangat Perlembagaan Persekutuan meskipun ada pihak menyokong hukum Islam itu.

        “Pelaksanaan hukum hudud memerlukan pindaan Perlembagaan Persekutuan dan akan memberi kesan ke atas hak asasi bukan Muslim, yang sedia terjamin di bawah Perlembagaan.

        “Fabrik perundangan perlembagaan tidak seharusnya diganggu,” kata enam pemimpin majlis itu dalam kenyataan dikeluarkan petang ini. {sumber}


        Apakah Sang Kuffar tidak langsung merasa bahawa mereka telah melampaui adab seorang insan yang kononnya menghormati agama Islam di negara yang kononnya Negara Islam?

        Sang Kuffar tentunya belajar dari kita. Sang Kuffar tidak yakin dengan hukum Allah. Majlis Fatwa Kebangsaan juga ragu tentang hukum Tuhannya, masakan pula Sang Kuffar mahu yakin-seyakinnya? Logik bukan?

        Jika Hudud yang beria-ia Sang Kuffar mahu campur tangan, apalah perasaan mereka jika aku mengkritik warna emas di berhala-berhala mereka?

        Apalah perasaan mereka jika aku mengkritik kain oren yang dipakai tok-tok sami yang seakan-akan penyokong Zahid ketika Akademi Fantasia 2?

        Apalah perasaan mereka apabila aku mengkritik side-burn yang panjang hingga diikat dibawah dagu benggali-benggali?

        Mereka (Sang Kuffar) tidak mengenali Pengasas Agama mereka dan sesungguhnya mereka berada di dalam kegelapan.

        Pada aku, mereka lebih kenal Ibrahim Ali iaitu pengasas PERKASA dari pengasas agama mereka sendiri.

        Bukankah masa mereka yang terbuang mencampuri hal-hal Agama Islam itu sepatutnya dipenuhi dengan mengenali agama mereka itu?

        Tidak. Jika ia berlaku, tentulah mereka akan menganut agama Islam kerana akhirnya mereka akan sedar Islamlah sebaik-baik cara penghidupan.

        Jika Melayu Islam zaman pra-Merdeka (walaupun tidak pernah dijajah) sanggup berarak menentang Inggeris yang cuba menguasai Kuasa Raja dalam hal adat dan Agama Islam, masakan Melayu Pasca Merdeka tidak berbuat sesuatu?

        Tidak pula aku mengesyorkan perlakuan ala-Syiah seperti orang PERKASA  seperti gambar dibawah.




        Cakap guna otak. Jangan jadi Anjing Politik.

        No comments:

        Post a Comment

        Post a Comment