CLICK at HOME…If it said this blog does not exist.

Tuesday, 12 April 2011

Bina Bangunan Cakar Langit Tanda Hampir KIamat.

Sumber : http://pulakdah.blogspot.com/2011/04/kerajaan-saudi-akan-bina-menara-dua.

Hari ini Keluarga Diraja Saudi telah mengumumkan rancangan untuk membina sebuah menara tertinggi di dunia - yang mempunyai ketinggian luar biasa, setinggi 1 batu.

Kingdom Tower
di Arab Saudi akan mepunyai ketinggian 1.6km (1 batu) selepas siap dan di dalamnya terdiri dari hotel, pejabat, apartmen mewah dan pusat membeli-belah.

Struktur ini akan dua kali lebih tinggi dari bangunan pencakar langit tertinggi di dunia ketika ini, Khalifa Burj di Dubai, dan LIMA kali dari bangunan tertinggi di Inggeris, The Shard.


Kingdom Tower akan melepasi langit. Bangunan berharga £12 bilioan ini akan terdiri daripada hotel, pejabat, apartmen mewah dan pusat membeli-belah.

Ia akan memakan masa 12 minit untuk tiba ke puncak bangunan bernilai £ 12 billion ini dengan eskalator.

Perbelanjaan pembinaan bangunan ini akan dibiayai oleh Kerajaan Saudi milik syarikat Kingdom Holding Company (KHC)- yang merupakan syarikat terbesar di dalam negara.


KHC turut memiliki saham di Apple, McDonald's dan Amazon, telah mengupah syarikat Amerika
Adrian Smith + Gordon Gill Architecture yang terlibat dalam pembinaan menara Burj Khalifa.

Luas: Sebuah model menara yang bernilai £12 billion. Pengunjung boleh sampai ke puncak dengan menggunakan eskalator.

Pakar bangunan tinggi Emaar, yang turut membangunkan Burj, difahamkan telah memenangi kontrak untuk membina Kingdom Tower, yang akan dibina di luar bandar pelabuhan Laut Merah Jeddah sebagai pusat bandar bagi 80,000 penduduk baru.

Namun pengumuman tersebut telah dikritik dengan seorang ahli perekabentuk yang menggambarkan idea
'menara tinggi' itu sebagai 'sia-sia'.

Rory Olcayto, wakil editor The Arkitek Journal, berkata:
"Perlumbaan untuk membina bangunan pencakar langit tertinggi adalah sangat sia-sia - di mana anda akan berhenti?


"Ramai orang Inggeris yang tahu bagaimana melakukan  projek-projek ini, menunjukkan betapa pentingnya arkitek Inggeris di pentas dunia.


"Tapi bangunan ini kehilangan arah, dan ia merupakan simbol dari kaedah berfikir yang kolot.


"Ini jauh lebih baik untuk melihat sesuatu seperti  3D China Central Television Headquarters di Beijing daripada menaiki menara tinggi."
Struktur bangunan ini akan dua kali lebih tinggi dari bangunan pencakar langit tertinggi di dunia ketika ini, Burj Khalifa di Dubai.

Kredit : DailyMail

13-metos-kata-aceh-bagaimana-islamnya.

http://www.ibnuhasyim.com/2011/04/13-metos-kata-aceh-bagaimana-islamnya.html
CATATAN PERJALANAN
Di kota Kuala Simpang Temiang. Bawah, penulis dan teman-peman penulis.

MAAF kawanku Drs Rosdi Deraman, sepatutnya aku ada sama dengan hang di Sarawak hari ini. Tapi apakan daya, kita hanya merancang, tapi Allah Maha Perancang.. Menyebabkan hari ini aku berada di Kuala Simpang Temiang Aceh. Ada tugas yang perlu ku selesaikan.

Dari pekan Kuala Simpang Temiang dua malam lepas, aku menaiki beca, tiga penumpang satu beca, menuju sebuah kampung terpencil berhampiran laut, sejauh kira-kira 3 kilometer. Singgah di sebuah warung.. Kami dikerumuni puluhan pemuda-pemuda kampung, mengucapkan selamat datang.

"Pelek!" kataku. "Kok di sini semua orang cakap bahasa Malaysia? Aku rasa macam di kampung sendiri.."

"Oh.. Hampir semua kami di sini pernah tinggal lama di Malaysia. Bila dengar ada kawan dari Malaysia ziarah sini, kami datang la.. Sambut ramai-ramai, sambut tetamu.." Jawab salah seorang dari mereka.

Begitulah hebatnya budaya orang Aceh dalam menyambut tetamu, yang lebih dekat kepada cara Islam. Aku mula meneliti, dari mana asal nama Aceh? Aku gerodek-gerodek dalam internet..

Aceh adalah nama sebuah 'Bangsa' yang mendiami ujung paling utara pulau Sumatera. Terletak antara Lautan Hindi dan Selat Melaka. Sebuah bangsa yang sudah dikenal dunia antarabangsa sejak tegaknya Kerajaan Poli di Aceh Pidie. Mencapai puncak kejayaan atau zaman keemasannya pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam, masa pemerintahan Sulthan Iskandar Muda. Berakhirnya kesulthanan Aceh pada tahun 1903, masa Sulthan Muhammad Daud Syah.

Dalam masa 42 tahun sejak 1903 hingga1945, Aceh tetap tegak dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya dari tangan Belanda dan Jepun.

Mari kita lihat mengtenai metos mengenai nama Aceh ini..

Satu: Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Aceh sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap di sana. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majmuk.

Sepeti dikutip oleh H.M.Said catatan Thomas Braddel menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropah mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba. Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau dari pantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh.

Dua: Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya 'Kesultanan Aceh' (Terjemahan Teuku Hamid, 1982/1983) menyebutkan bahawa berita-berita tentang Aceh sebelum abad ke-16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukan Kerajaan Aceh sangat bersimpang-siur dan terpencar-pencar.

Tiga: HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya 'Tarich Aceh dan Nusantara', menyebutkan bahawa bangsa Aceh termasuk dalam rumpun bangsa Melayu, iaitu; Mantee (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya. Yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu. Semua bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, India. Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khususnya di Kampung Seumileuk, yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah.

Letak kampung tersebut di atas Seulimum, antara Jantho dan Tangse. Seumileuk artinya dataran yang luas. Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut berpindah ke tempat-tempat lainnya. Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri. Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan (antara India Belakang dan Birma), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.

Empat: Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang Portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.

Lima: Sementara orang Arab menyebutnya Asji. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.

Enam: Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya..

'.. dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh). Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah."

Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu), Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.

Tujuh: Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai.

Lapan: Dalam cerita lain disebutkan, ada dua orang kakak beradik sedang mandi di sungai. Adik sedang hamil. Tiba-tiba hanyut sebuah rakit pohon pisang. Di atasnya tergeletak sesuatu yang bergerak-gerak. Kedua puteri itu lalu berenang dan mengambilnya. Ternyata yang bergerak itu adalah seorang bayi.

“Berikan ia padaku kerana kamu sudah mengandung dan aku belum.” Kata kakak kepada adiknya. Adiknya setuju. Maka kakaknya pun membawa pulang bayi itu ke rumahnya. Dia pun tinggal di atas balai-balai, yang di bawahnya terdapat perapian (madeueng) selama 44 hari. Macam orang yang baru lahirkan anak.

Ketika bayi itu diturunkan dari rumah, seisi kampung menjadi hairan dan mengatakan.. "Adoe nyang mume, a nyang ceh (Maksudnya, adik yang hamil, tapi kakak yang melahirkan!).

Sembilan: Mitos lainnya menceritakan..

"... pada zaman dahulu ada seorang anak raja yang sedang berlayar, dengan suatu sebab kapalnya karam. Ia terdampar ke tepi pantai, di bawah sebatang pohon yang oleh penduduk setempat dinamai pohon aceh. Nama pohon itulah yang kemudian ditabalkan menjadi nama Aceh."

Sepuluh: Talson menceritakan, pada suatu masa seorang puteri Hindu hilang, lari dari negerinya. Tetapi abangnya kemudian jumpa balik di Aceh. Ia mengatakan kepada penduduk di sana, bahawa puteri itu aji. Ertinya ”adik”. Sejak itulah puteri itu diangkat menjadi pemimpin mereka. Dan nama aji dijadikan sebagai nama daerah, yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Aceh.

Sebelas: Mitos lainnya yang hidup di kalangan rakyat Aceh, menyebutkan istilah Aceh berasal dari sebuah kejadian.. Iaitu isteri raja yang sedang hamil, lalu melahirkan. Oleh penduduk saat itu disebut ka ceh yang artinya 'telah lahir'. Dan, dari sinilah asal kata Aceh.

Duabelas: Kisah lainnya menceritakan tentang karakter bangsa Aceh yang tidak mudah pecah. Hal ini diterjemahkan dari rangkaian kata.. 'a' yang artinya tidak, dan 'ceh' yang ertinya pecah. Jadi, kata 'aceh' bermakna tidak pecah.

Tigabelas: Di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Aceh adalah dari suku Mantir (Mantee, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Manteu ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bahagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.

Begitu antara metos dan legenda nama Aceh negeri pertama di Asia Tenggara yang terdapat bukti-bukti kedatangan awal Islam. Islam yang menjadikan rakyat Aceh berbudaya seperti di atas sehingga mendapat jolokan 'Serambi Mekah Indonesia'. Sama juga seperti 'Serambi Mekah'Malaya' di negeri Kelantan, Malaysia.

Pada saya (Ibnu Hasyim), antara ulama terakhir yang memperjuangkan kemerdekaan beragama di Indonesia adalah Daud Beureueh di bumi Aceh. Saya kurang bersetuju dengan kenyataan..

"Aceh tetap berdiri dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya dari tangan Belanda dan Jepang yang dipimpin oleh para bangsawan, hulubalang dan para pahlawan Aceh seperti Tgk Umar, Cut Nyak Dhien dan lain-lain dan juga Aceh mempunyai andil yang sangat besar dalam mempertahankan Nusantara ini dengan pengorbanan rakyat dan harta benda yang sudah tak terhitung nilainya hingga Aceh bergabung dengan Indonesia karena kedunguan dan kegoblokan Daud Beureueh yang termakan oleh janji manis dan air mata buaya Soekarno."

Mengatakan, "Aceh bergabung dengan Indonesia karena kedunguan dan kegoblokan Daud Beureueh" adalah agak keterlaluan, kerana gagasan Daud Beureueh bukan sahaja untuk pembebasan Islam dari penjajah untuk bumi Aceh sahaja, bahkan untuk pembebasan Islam di seluruh Indonesia.

Beliau menuntut hak atonomi untuk melaksanakan Islam secara syumul di Aceh yang mungkin menjadi pengkalan tempat bertolak dalam 'menasionalkan' Islam ke seluruhIndonesia. Bukan seperti 'Perjanjian Helsinki' yang tidak menyebut sepatah pun perkataan Islam dalam perjanjiannya, dan terhad untuk Aceh sahaja.

Sekian bersambung...

Ibnu Hasyim
alamat: ibnuhasyim@gmail.com

Kuala Simpang Temiang, Aceh.

12 Apr 11.


Lihat sebelum ini...


E-Buku IH-15: Aceh, Sebelum & Selepas Hasan Tiro'

E-Buku IH-15: Aceh, Sebelum & Selepas Hasan Tiro'
E-Buku IH-16: 'Dari Surabaya ke Medan & Aceh'
E-Buku IH-6: Perjalanan Dari Menado Ke Aceh..
E-Buku IH-6: Perjalanan Dari Menado Ke Aceh..

Monday, 11 April 2011

Kitab Hikam 38: SEBARKAN KEBAIKAN MENGIKUT KEMAMPUAN

38: SEBARKAN KEBAIKAN MENGIKUT KEMAMPUAN

HENDAKLAH BERBELANJA AKAN KEKAYAANNYA BAGI MEREKA YANG TELAH SAMPAI KEPADA ALLAH S.W.T DAN MENURUT KADAR KEMAMPUANNYA BAGI YANG SEDANG BERJALAN KEPADA ALLAH S.W.T. Hikmat 38 di atas mengemukakan ujian kepada hati sejauh mana kekuatannya beriman, berserah diri dan yakin dengan janji Allah s.w.t. Ia juga menjadi pengukur pada tahap mana seseorang yang berjalan pada jalan kerohanian itu berada. Hikmat di atas menjurus khusus kepada harta kekayaan. Harta merupakan sesuatu yang sangat diperlukan oleh manusia. Manusia memerlukan harta untuk menanggung keperluan hidupnya, bahkan ibadat-ibadat seperti haji dan zakat perlu dilakukan dengan menggunakan harta. Sedekah juga memerlukan harta. Membuat kebajikan seperti mendirikan masjid, hospital, sekolah dan lain-lain juga memerlukan harta. Oleh kerana besarnya peranan harta kepada kehidupan manusia, maka kebanyakan daripada aktiviti manusia berkisar pada soal harta atau ekonomi. Pendidikan dan kemahiran disalurkan ke arah ekonomi. Kejayaan atau kegagalan dinilai melalui faktor ekonomi. Perhatian manusia sentiasa tertuju kepada soal ekonomi atau harta dalam membuat sesuatu keputusan.
 Apabila harta sudah bertapak dalam jiwa seseorang manusia akan menjual maruah dirinya kerana harta. Orang miskin sanggup diperkudakan oleh orang kaya kerana harta. Orang kaya sanggup melakukan rasuah dan penganiayaan kerana harta. Harta menjadi raja menguasai jiwa raga manusia. Segala sesuatu dinilai dengan harta. Persahabatan harus dibeli dengan harta. Kesetiaan juga perlu dibayar dengan harta.
Hikmat di atas menarik perhatian orang yang sedang berjalan pada jalan kerohanian agar memerhatikan hatinya, bagaimanakah hubungan hatinya dengan harta. Ia menyatakan bahawa orang yang telah sampai kepada Allah s.w.t dan memperolehi makrifat-Nya tidak seharusnya menyimpan harta, hendaklah dia membelanjakan ke jalan Allah s.w.t dan yakin dengan janji Allah s.w.t tentang rezekinya. Orang yang masih dalam perjalanan pula hendaklah membelanjakan ke jalan Allah s.w.t menurut kesanggupannya. Sejarah banyak menceritakan tentang sikap hamba-hamba pilihan Allah s.w.t terhadap harta.
 Saidina Abu Bakar as-Siddik r.a menyumbangkan kesemua hartanya untuk jihad fi-sabilillah, tidak ada satu dirham pun disimpannya. Bila Rasulullah s.a.w bertanyakan kepadanya mengapakah tidak ditinggalkan sedikit buat menguruskan keperluannya, beliau r.a menjawab, “Cukuplah Allah dan Rasulullah bagiku”.
 Abdul Rahman bin Auf yang terkenal dengan kekayaannya, mencari harta bukan untuk kepentingan dirinya tetapi untuk kegunaan menyebarkan agama Allah s.w.t. Salman al-Farisi ketika memegang jawatan amir, tidak mengambil gajinya, sebaliknya beliau menganyam daun kurma untuk dijadikan bakul dan tikar. Hasil anyamannya dijualnya dan apa yang diperolehinya dibahagikan kepada tiga bahagian. Satu bahagian sebagai modal pusingan, satu bahagian buat belanja ahli rumahnya dan satu bahagian lagi disedekahkan kepada golongan miskin.
 Imam as-Syafi’e r.a sekembalinya ke Makkah dari Yaman telah dihadiahkan puluhan ribu wang emas. Sebelum memasuki kota Makkah beliau telah mendirikan sebuah khemah di luar kota. Dikumpulkan golongan fakir dan miskin dan disedekahkan kesemua wang yang diterimanya sebagai hadiah itu. Setelah kesemua wang itu habis disedekahkan baharulah beliau masuk ke kota Makkah.
Rabiatul Adawiah hanya menyimpan sehelai tikar yang usang sebagai sejadah dan sebiji kendi buat mengisi air untuk wuduknya. Beliau tidak menyimpan makanan untuk petangnya. Banyak lagi kisah aulia Allah s.w.t yang menggambarkan bahawa tidak sebesar zarah pun hati mereka terikat dengan harta. Mereka melihat pengidupan dunia ini hanyalah persinggahan sebentar, tidak perlu mengambil bekalan.
Bagi orang yang masih dalam perjuangan dan belum lagi sampai kepada Allah s.w.t, mereka tidak sanggup berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh aulia Allah s.w.t. Sungguhpun begitu jika dibiarkan harta melekat pada hati akan membahayakan hati itu sendiri. Oleh itu biasakanlah berpisah daripada harta yang disayangi agar rohani akan menjadi lebih kuat dalam perjalanan menuju Allah s.w.t. Allah s.w.t berfirman:
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya; dan sesiapa yang disempitkan rezekinya, maka hendaklah ia memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya (sekadar yang mampu); Allah tidak memberati seseorang melainkan (sekadar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya. (Orang-orang yang dalam kesempitan hendaklah ingat bahawa) Allah akan memberikan kesenangan sesudah berlakunya kesusahan. ( Ayat 7 : Surah at-Talaaq ) Oleh kerana bidang ekonomi merupakan salah satu fardu kifayah yang perlu diuruskan demi kesejahteraan dan kekuatan kaum muslimin, maka Allah s.w.t memilih dari kalangan kaum muslimin orang-orang tertentu yang dipermudahkan bagi mereka mengembangkan ekonomi mereka. Allah s.w.t bukakan bagi mereka pintu-pintu rezeki. Allah s.w.t kurniakan kepada mereka rezeki yang melimpah-ruah. Mereka seolah-olah berada dalam keadaan menadah bekas dan rezeki dicurahkan ke dalam bekas mereka.
 Orang yang menyedari harta kekayaannya adalah kurniaan Allah s.w.t, maka harta kekayaan itu menjadi ujian baginya. Orang yang tidak menyedarinya pula, maka harta kekayaan itu menjadi alat istidraj yang akan menghempapnya kelak. Baik ujian mahu pun istidraj, orang yang memikul harta sebenarnya memikul beban yang sangat berat. Golongan yang menghadapi hisab yang paling halus di akhirat kelak adalah mereka yang di dunia memikul harta.
 Walaupun memikul harta merupakan beban yang berat tetapi sebahagian kaum muslimin perlu mengambil tugas tersebut sebagaimana sebahagian kaum muslimin yang mengambil bidang jihad fi-sabilillah dan mati syahid di medan perang. Dari kalangan nabi-nabi juga ada yang memikul tugas yang berhubung dengan harta, misalnya Nabi Yusuf a.s, Nabi Sulaiman a.s dan Nabi Daud a.s. Al-Quran menceritakan tentang Nabi Yusuf a.s:
Dia (Yusuf) berkata: “Jadikanlah daku pengurus perbendaharaan hasil bumi (Mesir); kerana sesungguhnya aku sedia menjaganya dengan sebaik-baiknya, lagi mengetahui cara mentadbirkannya”. ( Ayat 55 : Surah Yusuf ) Nabi Yusuf a.s mengetahui sifat dirinya dan kebolehan yang ada dengannya. Beliau a.s telah menjalani kehidupan yang membuatkan harta tidak sedikit pun menguasai hatinya. Beliau a.s juga mengetahui kebolehan menguruskan harta yang Allah s.w.t kurniakan kepadanya. Demi kebaikan orang ramai Nabi Yusuf a.s menawarkan dirinya kepada raja untuk memegang jawatan pengurus harta kekayaan kerajaan Mesir. Raja bersetuju dengan permintaan Nabi Yusuf a.s itu dan beliau a.s membuktikan kewibawaan dan kebijaksanaan beliau a.s dalam bidang tersebut.
 Nabi Sulaiman a.s juga menguruskan kekayaan dan kekuasaan. Beliau a.s mempunyai sifat-sifat yang terpuji. Allah s.w.t memanggil hamba-Nya, Sulaiman a.s, sebagai sebaik-baik hamba. Nabi Yusuf a.s dan Nabi Sulaiman a.s menguruskan kekayaan dan kekuasaan atas dasar kehambaan kepada Allah s.w.t.
Dan Kami telah kurniakan kepada Nabi Daud (seorang anak bernama) Sulaiman; ia adalah sebaik-baik hamba (yang kuat beribadat), lagi sentiasa rujuk kembali (bertaubat). ( Ayat 30 : Surah Saad ) Nabi Sulaiman a.s  bermohon kepada Allah s.w.t agar dikurniakan kepada beliau a.s kerajaan yang besar. Kedua-dua mereka, Nabi Yusuf a.s dan Nabi Sulaiman a.s, meminta untuk menguruskan bidang berkenaan. Ternyata bahawa orang yang boleh menguruskan dengan adil bidang berkenaan adalah orang yang benar-benar mengenali dirinya, mempunyai keyakinan yang teguh, hati yang bulat dan sifat kehambaan yang sebenar-benarnya kepada Allah s.w.t.
Dia (Sulaiman) berkata: “Wahai Tuhanku! Ampunkanlah kesilapanku, dan kurniakanlah kepadaku sebuah kerajaan (yang tidak ada taranya dan) yang tidak akan ada pada sesiapapun kemudian daripadaku; sesungguhnya Engkaulah yang sentiasa Melimpah Kurnia-Nya”. ( Ayat 35 : Surah Saad )  Sesiapa yang ditakdirkan menguruskan bidang kekayaan dan kekuasaan perlulah menjalankan amanah Allah s.w.t itu atas dasar kehambaan kepada-Nya dengan sebaik mungkin.  

Tajuk 39
KANDUNGAN

Friday, 8 April 2011

Rahsia Al Fatihah.




Surah Ke 1 : 7 ayat

  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  4. Yang menguasai hari pembalasan.
  5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
  6. Tunjuklah kami jalan yang lurus.
  7. (iaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
KEHEBATAN AL-FATIHAH
  • RUKUN BAGI IBADAT SOLAT
Sabda Rasul: “tidak ada solat bagi orang yang tidak membacakan Al-Fatihah di dalamnya (solatnya)”. – dari Anas bin Malik r.a
  • PENYEMBUH PENYAKIT
Adbullah bin abas r.a. telah berkata, : Pada suatu hari, Husain bin Ali iaitu cucunda Rasulullah telah mengalami satu kesakitan yang menyebabkan nabi berdukacita. Lalu nabi mengambil satu bejana yang berisi air dan terus membaca surah Al-Fatihah sebanyak 40 kali”.
  • SURAH TERISTIMEWA UNTUK NABI MUHAMMAD S.A.W.
“Sesungguhnya Allah s.w.t. telah menurunkan kepadaku sebuah surah (Al-Fatihah) yang tidak diturunkanNya kepada sesiapa pun daripada nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumku”. – riwayat Ibnu Abbas
  • SETARAF DENGAN DUA PERTIGA AL-QURAN
  • SURAH TERAGUNG DI ANTARA SURAH-SURAH AL-QURAN
  • SURAH YANG SECARA LANGSUNG MEMBENTUK KOMUNIKASI AGUNG ANTARA MAKHLUK DAN PENCIPTA ALAM.
  • TIADA PERSAMAAN DALAM KITAB TAURAT, INJIL, ZABUR DAN AL-QURAN.
KOD METAMATIKA AL-FATIHAH
AYAT
JUMLAH HURUF
JUMLAH NILAI HURUF
1
19
1
786
21
3
2
18
9
582
15
6
3
12
3
618
15
6
4
11
2
241
7
7
5
19
1
836
17
8
6
19
1
1073
11
2
7
44
8
6010
7
7
142
7
10146
12
3
YANG TERSURAT & TERSIRAT…
1. Al-Fatihah terdiri dari 7 ayat. Diturunkan di Mekah, sebelum Rasul berhijrah. Surah yang PERTAMA turun dengan kandungannya yang melengkapi satu surah.
2. Al-Fatihah terdiri dari 142 huruf (1+4+2=7). Dan Al-Fatihah terbina dari 21 (3X7) huruf-huruf yang berbeza-beza. Ada 7 huruf yang tiada dalam surah ini iaitu:fa , jim, shin, tha,   thaw, kha  dan zay.
3. Ayat ke 4 adalah ayat yang ditengah-tengah pada surah ini, jumlah nilai huruf pada ayat ini adalah 241 @ 2+4+1=7.
4. Ayat akhir iaitu ayat 7 memiliki jumlah nilai huruf 6010 @ 6+0+1+0=7.
5. Huruf Zay yang memiliki nilai huruf 7 tidak muncul dalam surah ini.
6. Huruf Dzal yang memiliki nilai huruf 700 muncul sebagai huruf ke 7 dalam ayat yang ke 7.
7. Huruf Aliff adalah huruf yang paling banyak muncul dalam surah ini iaitu  25 (2+5=7) kali.
8. Surah ini dimulai dengan huruf BA (nilai huruf 2) pada ayat 1dan diakhiri dengan huruf NUN (nilai huruf 50) pada ayat 7. Maka 2+50=52 @ 7.
9. Al-Fatihah merupakan Surah Pertama di dalam Al-Quran (Pembuka Kitab). ‘Bismillahirrahmanirrahim’ merupakan ayat 1 dan terbina dengan susunan 19 huruf (1+9=10 = 1 @ ayat pertama).
10. Jumlah keseluruhan huruf ada 142 manakala jumlah nilainya adalah 10146, jika dihitung kesemuanya 1+4+2+1+0+1+4+6=19 @ 1 -Surah Pertama.
11. Selain ayat 1, pada ayat 5 & 6 bilangan huruf pada ayat-ayat tersebut juga adalah 19 huruf.
12. Jumlah nilai huruf keseluruhan surah BOLEH dibahagi dengan 19 iaitu 10146÷19=534 @ 5+3+4=12 = 3.
13. Ayat 1 dalam surah ini memiliki jumlah nilai huruf 786 @ 7+8+6=21= 3.
14. Jumlah nilai huruf keseluruhan surah adalah 10146 @ 1+0+1+4+6=12=3.
15. Ayat yang ke 3 terdiri daripada 12 huruf @ 1+2=3.
16. Huruf JIM yang memiliki nilai huruf 3 dan huruf SYIIN yang memiliki nilai huruf 300 tidak muncul dalam surah ini.
17. Huruf LAM yang memiliki nilai huruf 30 muncul 22 kali dalam surah ini. Maka 30 X 22 = 660 @ 6+6+0=12 = 3.
18. Nama “Al-Fatihah” terdiri dari huruf Aliff, Lam, Fa, Aliff, Ta, Haa dan HA memiliki nilai huruf 1+30+80+1+400+8+5=525 @ 5+2+5=12 = 3.
19. Terdapat 3 fasa penceritaan dalam Surah ini yang memiliki 7 ayat. 3 ayat pertama untuk Allah, 3 ayat akhir untuk manusia dan 1 ayat (yang di tengah) untuk Allah dan manusia.  Ini dinyatakan dalam sebuah hadis Qudsi riwayat AlTabrani yang bermaksud:
“Wahai Bani Adam!…Aku telah menurunkan kepada kamu 7 ayat. 3 daripadanya untuk-KU. 3 lagi untukmu. Sedangkan 1 untuk kita bersama.
Wallahualam..sumber

Thursday, 7 April 2011

Bacaan Suroh Rasulullah SAW Dalam Solat.


Bacaan Dalam Solat Perlu Tertib
BOLEHKAH ustaz senaraikan surah yang perlu dibaca dalam solat? Apakah benar panjang pendek sesuatu surah itu akan menentukan kedudukannya sama ada di rakaat awal atau akhir.

*********************
Ustaz Zahazan Mohamed
BACAAN surah dalam solat hendaklah dibaca dengan tertib dan tartil serta dibezakan bacaan dengung suara antara sebutan rahmat dan sebutan azab, antara sebutan tahmid (memuji) dengan sebutan tamjid (memuliakan), antara sebutan wa'du (janji baik untuk yang taat) dengan wa'id (janji jahat untuk yang ingkar). Jika kita melakukan sedemikian, barulah solat kita dikatakan berbekas pada jiwa dan perasaan.

Begitu juga hendaklah kita berhenti (waqaf) pada tiap-tiap ayat, atau di tempat yang dipandang baik berhenti pada tempat itu.

Mengenai soal memanjangkan atau memendekkan surah yang dibaca iaitu Rasulullah SAW kadang-kala membaca surah panjang, sederhana dan kadang-kadang pendek. Baginda SAW membaca bersesuaian dengan keadaan ketika itu.

Rasulullah SAW juga sentiasa membaca surah dari awal, tidak pernah Baginda memulakan bacaan pada pertengahan surah atau pada akhir surah. Baginda SAW kadang-kadang menghabiskan bacaan surah di pertengahan surah itu pada satu rakaat saja, dan kadang-kadang Baginda berhenti di pertengahan surah dan Baginda menamatkannya di rakaat kedua.

Tidak ada riwayat yang menyatakan Nabi SAW membaca satu atau dua atau tiga ayat daripada satu-satu surah, atau membaca akhir surah melainkan di solat sunat fajar (Subuh).

Pada solat sunat fajar (Subuh), Nabi SAW membaca di rakaat pertama satu ayat pada surah al-Baqarah, iaitu ayat 136. Pada rakaat kedua sunat fajar (Subuh), Baginda membaca satu ayat pada surah Ali Imran ayat 64.

Rasulullah SAW pernah membaca satu surah di kedua-dua rakaat, seperti mana Baginda pernah membaca kedua-dua surah tiap-tiap rakaat. Umpamanya, Rasulullah SAW pernah membaca surah al-A'raf pada solat Maghrib, sebahagiannya Baginda baca di rakaat pertama dan sebahagian lagi dibaca pada rakaat yang kedua.

Rasulullah SAW pernah membaca surah al-Zalzalah di kedua-dua rakaat solat Subuh. Rasulullah SAW pernah membaca kedua-dua surah daripada surah al-Mufashshal, pada satu-satu rakaat.

Rasulullah SAW pernah memanjangkan bacaan ketika solat Subuh setiap hari, lebih panjang daripada solat fardu yang lain pada hari itu.

Rasulullah SAW pada setiap solat ghalibnya (lazimnya) memanjangkan bacaan surah pada rakaat pertama dibandingkan rakaat kedua.

Surah terpendek yang Baginda baca pada solat Subuh ialah Surah Qaf dan surah yang ukuran sepertinya. Menurut keterangan yang sahih, bacaan ketika solat Subuh itu, lazimnya sebanyak 60 hingga 100 ayat (iaitu bagi tiap-tiap rakaat).

Di solat Subuh pada pagi Jumaat, Baginda tetap membaca pada rakaat pertama Surah as-Sajadah dan di rakaat kedua, membaca surah al-Insan. Baginda membaca dengan lengkap, tidak pernah Baginda membaca setengahnya saja.

Pada solat Zuhur, Rasulullah SAW membaca (panjangnya) 30 ayat (seperti panjang surah as-Sajadah). Rasulullah SAW juga membaca pada solat Zuhur surah al-A'la dan al-Lail atau Surah al-Buruj dan surah At Taariq dan seumpamanya.

Ketika solat Jumaat, Rasulullah SAW biasa membaca surah al-Jumaah pada rakaat pertama dan surah al-Munafiqun pada rakaat kedua. Adakalanya Baginda SAW membaca surah al-A'la dan al-Ghasyiah.

Ketika solat Asar, Rasulullah SAW membaca sekadar 15 ayat pada tiap rakaat. Ketika solat Maghrib Rasulullah SAW membaca surah al-A'raf, surah at-Thur, surah al-Mursalat dan surah ad-Dukhan. Baginda tidaklah terus menerus membaca surah yang pendek.

Ada riwayat yang mengatakan Rasulullah SAW membaca surah al-Kaafirun dan surah al-Ikhlas. Riwayat ini hanya diterima daripada Ibn Majah, kerana itu tidak dapat dipandang sahih. Riwayat yang sahih adalah Rasulullah SAW membaca surah al-Kaafirun dan al-Ikhlas dalam solat Maghrib.

Ketika solat Isyak, Rasulullah SAW membaca surah at-Tin dan surah asy-Syams dan surah-surah seumpamanya. Apabila selesai membaca surah, berhenti atau berdiamlah sekadar senafas, iaitu sekadar membaca Subhanallah. Jangan sekali-kali disambung terus akhir surah dengan takbir dan rukuk.

Wallahualam

Wednesday, 6 April 2011

Kitab Hikam 33: SANDARKAN NIAT KEPADA ALLAH S.W.T

33: SANDARKAN NIAT KEPADA ALLAH S.W.T

TIDAK SIA-SIA SESUATU MAKSUD APABILA DISANDARKAN KEPADA ALLAH S.W.T DAN TIDAK MUDAH TERCAPAI TUJUAN JIKA DISANDARKAN KEPADA DIRI SENDIRI.
Hikmat yang lalu menggambarkan keadaan hamba Allah s.w.t yang mempunyai maksud yang baik iaitu mahu mengubah dunia supaya menjadi tempat kehidupan yang sentosa, tetapi ternyata gagal melaksanakan maksudnya apabila dia bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri. Allah s.w.t menyifatkan dunia sebagai tempat huru-hara dan kekeruhan. Sesiapa yang memasukinya pasti berjumpa dengan keadaan tersebut. Kekuatan huru-hara dan kekeruhan yang ada pada dunia sangatlah kuat kerana Allah s.w.t yang meletakkan hukum kekuatan itu padanya. Percubaan untuk mengubah apa yang Allah s.w.t tentukan akan menjadi sia-sia. Allah s.w.t yang menetapkan sesuatu perkara, hanya Dia sahaja yang dapat mengubahnya. Segala kekuatan, baik dan buruk, semuanya datang daripada-Nya. Oleh yang demikian jika mahu menghadapi sesuatu kekuatan yang datang dari-Nya mestilah juga dengan kekuatan-Nya. Kekuatan yang paling kuat bagi menghadapi kekuatan yang dipunyai oleh dunia ialah kekuatan berserah diri kepada Allah s.w.t. Kembalikan semua urusan kepada-Nya. Rasulullah s.a.w telah memberi pengajaran dalam menghadapi bencana dengan ucapan dan penghayatan:

Kami datang dari Allah. Dan kepada Allah kami kembali.
Semua perkara datangnya dari Allah s.w.t dan akan kembali kepada Allah s.w.t juga. Misalnya, api yang dinyalakan, dari mana datangnya jika tidak dari Allah s.w.t dan ke mana perginya bila dipadamkan jika tidak kepada Allah s.w.t.
 Apabila sesuatu maksud disandarkan kepada Allah s.w.t maka menjadi hak Allah s.w.t untuk melaksanakannya. Nabi Adam a.s mempunyai maksud yang baik iaitu mahu menyebarkan agama Allah s.w.t di atas muka bumi ini dan menyandarkan maksud yang baik itu kepada Allah s.w.t dan Allah s.w.t menerima maksud tersebut. Setelah Nabi Adam a.s wafat, maksud dan tujuan beliau a.s diteruskan. Allah s.w.t memerintahkan maksud tersebut dipikul oleh nabi-nabi yang lain sehingga kepada nabi terakhir iaitu Nabi Muhammad s.a.w. Setelah Nabi Muhammad s.a.w wafat ia dipikul pula oleh para ulama yang menjadi pewaris nabi-nabi. Ia tidak akan berhenti selama ada orang yang menyeru kepada jalan Allah s.w.t. Jika dipandang dari segi perjalanan pahala maka boleh dikatakan pahala yang diterima oleh Nabi Adam a.s kerana maksud baiknya berjalan terus selama agama Allah s.w.t berkembang dan selagi ada orang yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya ini.
 Maksud menyerah diri kepada Allah s.w.t, bersandar kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya mesti difahami dengan mendalam. Kita hendaklah memasang niat yang baik, dan beramal bersesuaian dengan makam kita. Allah s.w.t yang menggerakkan niat itu dan melaksanakan amal yang berkenaan. Cara pelaksanaannya adalah hak mutlak Allah s.w.t. Kemungkinan kita tidak sempat melihat asas yang kita bina siap menjadi bangunan namun, kita yakin bangunan itu akan siap kerana Allah s.w.t mengambil hak pelaksanaannya. Maksud dan tujuan kita tetap akan menjadi kenyataan walaupun kita sudah memasuki liang lahad. Pada masa kita masih hidup kita hanya sempat meletakkan batu asas, namun pada ketika itu mata hati kita sudah dapat melihat bangunan yang akan siap. Rasulullah s.a.w sudah dapat melihat perkara yang akan berlaku sesudah baginda s.a.w wafat, diantaranya ialah kejatuhan kerajaan Rum dan Parsi ke tangan orang Islam semasa pemerintahan khalifah ar-rasyidin. Sekalian nabi-nabi mursalin yang dibangkitan sebelum Nabi Muhammad s.a.w sudah dapat melihat kedatangan baginda s.a.w sebagai penutup dan pelengkap kenabian. Begitulah tajamnya pandangan mata hati mereka yang bersandar kepada Allah s.w.t dan menyerahkan kepada-Nya tugas mengurus.
 Tidak ada jalan bagi seseorang hamba kecuali berserah diri kepada Tuannya. Semua Hikmat dari yang pertama hinggalah kepada yang ke 33 ini, sekiranya disambungkan akan membentuk satu landasan yang menuju satu arah iaitu berserah diri kepada Allah s.w.t. Hikmat-hikmat yang telah dipaparkan membicarakan soal pokok yang sama, disuluh dari berbagai-bagai sudut dan aspek supaya lebih jelas dan nyata bahawa hubungan sebenar seorang hamba dengan Tuhan ialah berserah diri, reda dengan lakuan-Nya. Rasulullah s.a.w telah mewasiatkan kepada Ibnu Abbas r.a:
Apabila kamu bermohon, maka bermohonlah kepada Allah s.w.t. Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah s.w.t. Dan, ketahuilah bahawa sekiranya sekalian makhluk saling bantu membantu kamu untuk memperolehi sesuatu yang tidak ditulis Allah s.w.t untuk kamu, pasti mereka tidak akan sanggup mengadakannya. Dan, sekiranya sekalian makhluk mahu memudaratkan kamu dengan sesuatu yang tidak ditulis Allah s.w.t buat kamu, nescaya mereka tidak sanggup berbuat demikian. Segala buku telah terlipat dan segala pena telah kering.

Saturday, 26 March 2011

KITAB HIDAYATUS SALIKIN.


Kitab Hidayatus Salikin karangan Shiekh 'Abdul Samad Falambani (Palembang)..sangat bermanfaat kepada muslimin..bagi meningkatkan diri dari..muslimin kepada mukminin...seterusnya kepada MUKHSININ. Selaras dengan HADIS Nabi Muhammad SAW yang masyhor..berkaitan IMAN, ISLAM dan IKHSAN.


Saya akan cuba MERUMIKAN..dari mukasurat satu hingga akhir, InsyAllah SWT..iaitu hingga muka surat 310...Kitab ini mengandungi kira kira 80 tajuk. TULISAN JAWI mempunyai KELEBIHAN tersendiri..dari segi penjimatan RUANG KERTAS..dari segi SEBUTAN 'ARAB yang betul ..EJAAN yang standard : EJAAN Muhammad tetap hanya 4 huruf..mim ha mim dal..tiadk seperti RUMI..macam macam EJAAN untuk nama Muhammad yang sangat MENYUSAH dan mengelirukan...

 Cuma jika nak tulis nama orang Inggeris atau nama saintifik...gunakan tulisan rumi dalam kurungan / bracket..kemudian sambung balik dengan tulisan JAWI.


40 HADIS AKHIR ZAMAN 

Sumber : http://dilemaduniaislam.blogspot.com/2011/03/40-hadis-akhir-zaman.html
Hadis Pertama:

JANGAN MUDAH MENYALAHKAN ORANG LAIN


Dari Abu Hurairah Ra., bahawasanya Rasullullah SAW bersabda: “Jika ada seseorang berkata, “orang banyak (sekarang ini) sudah rosak, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rosak di antara mereka.” (HR. Muslim)

Keterangan

Imam Nawawi ketika menulis Hadis ini dalam kitab Riyadus-Solihin, beliau memberikan penjelasan seperti berikut: “Larangan seperti di atas tadi (larangan mengatakan orang banyak telah rosak) adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian rupa dengan tujuan rasa bangga pada diri sendiri, sebab dirinya tidak rosak, dengan tujuan merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih mulia daripada mereka. 

Maka yang demikian ini adalah haram. Adapun orang yang berkata seperti ini kerana ia melihat kurangnya perhatian orang banyak terhadap agama mereka serta didorong oleh perasaan sedih melihat nasib yang dialami oleh mereka dan timbul dari perasaan cemburu terhadap agama, maka perkataan itu tidak ada salahnya.

Hadis ini sengaja diletakkan di permulaan buku ini supaya menjadi suatu peringatan kepada Umat Islam apabila menerangkan Hadis-hadis akhir zaman seperti apa yang dituliskan di sini yang banyak menyingkap tentang kemunduran umat Islam dan kerosakan moral mereka. 

Oleh kerana itu, kita cuba mengaitkan hadis-hadis tersebut dengan realiti umat Islam dewasa ini, maka janganlah kita merasa bangga dan ‘ujub dengan diri sendiri, bahkan hendaklah kita menegur diri kita masing-masing dan jangan senang menuding jari ke arah orang lain. 

Walaupun kerosakan moral umat Islam dewasa ini perlu dibicarakan untuk tujuan memulihkan, namun penyingkapannya itu perlu dalam bentuk yang sihat dan dengan perasaan yang penuh kasih sayang serta dengan rasa cemburu terhadap agama, bukan dengan perasaan bangga diri dan memandang rendah kepada orang lain.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan limpah karuniaNya mencucuri kita rahmat, taufiq dan hidayah.

Petikan Daripada Buku Abu Ali Al-Banjari An-Nadawi.