CLICK at HOME…If it said this blog does not exist.

Saturday, 25 May 2013

Sejarah Singkat Imam Bukhari


Sejarah Singkat Imam Bukhari


 CREDIT TO :http://bukharimuslim.wordpress.com/2012/01/

Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari



Imam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). 

Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo’a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.

Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. 

Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya “Islam in the Sivyet Union” (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.

Keluarga dan Guru Imam Bukhari

Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti “al-Mubarak” dan “al-Waki”. Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.

Kejeniusan Imam Bukhari

Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. 

Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja “diputar-balikkan” untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. 

Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.

Karya-karya Imam Bukhari

Karyanya yang pertama berjudul “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab “At-Tarikh” (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, “Saya menulis buku “At-Tarikh” di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama”.

Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami’ ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al ‘Ilal, Raf’ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du’afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami’ as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: “Aku bermimpi melihat Rasulullah saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta’bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami’ As-Sahih.”

Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.

Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun kitab Al Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.”

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim menceritakan : “Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” 

Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : “Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya.”

Penelitian Hadits

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. 

Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

Metode Imam Bukhari dalam Menulis Kitab Hadits

Sebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.

Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan bisa juga berbeda pendapat dengan mereka.

Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami’ as-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., seolah-olah Nabi Muhammad saw. berdiri dihadapannya. Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong beliau untuk menulis kitab “Al-Jami ‘as-Shahih”.

Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. “Saya susun kitab Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih”. Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.

Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.

Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits lainnya. “Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih”, katanya suatu saat.

Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami’ as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. 

Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. 

Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

Terjadinya Fitnah

Muhammad bin Yahya Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: “Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya.” Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang berpendapat bahwa “Al-Qur’an adalah makhluk”.

Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli : “Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia.” Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.

Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.

Tetapi orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab: “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah.” Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. 

Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah.” Di lain kesempatan, ia berkata: “Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah pendusta.”

Wafatnya Imam Bukhari

Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. 

Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.

Saturday, 11 May 2013

Islam lebih tinggi daripada bangsa


ISLAM LEBIH TINGGI DARIPADA BANGSA.

Tetapi ingatlah bahawa Islam itu dipertahankan di muka bumi oleh majoriti sesuatu bangsa manusia yang menganuti agama Allah.




AKIBAT daripada usaha demotivate [rujuk arkib Umat Terakhir di laman Abatasa di link:http://abatasa2.blogspot.com/2011/10/mind-game-demotivate.html] yang digerakkan oleh sebilangan pemimpin politik untuk menghakis semangat kebangsaan Melayu - demi mencapai cita-cita politik - kelompok orang Melayu yang mengikuti jalan politik itu akhirnya mengalami konflik jati diri.

Mungkin istilah konflik jati diri itu kurang tepat untuk menggambarkan situasi ini, namun orang-orang Melayu yang mengikut jalan politik itu kelihatan tidak terdetik rasa bangga dan kecintaan terhadap perjuangan bangsa mereka sendiri yang tidak pernah letih berjuang demi agama yang dijadikan kompas kehidupan.

Islam hadir ke bumi Melayu pada ketika negeri-negeri Melayu berada di ambang kegemilangan perdagangan dunia. Sejak raja-raja Melayu menerima Islam sebagai ad-deen, orang-orang Melayu sentiasa berjuang demi agama mereka sehingga melangkau ke beberapa generasi seterusnya. Selama beratus tahun sejak sebelum zaman imperial, orang Melayu yang majoriti di bumi Malaysia moden sangat setia mempertahankan Islam.

Islam tidak mensyaratkan bangsa bagi para penganutnya kerana agama wahyu yang terakhir itu bersifat universal. Namun, bangsa-bangsa manusia secara kolektif melibatkan bilangan majoriti penganut yang menganut agama itulah yang bertindak mempertahankan agama Islam.

Memang Islam tidak mensyaratkan bangsa bagi penganutnya, tetapi bangsa-bangsa manusialah yang bertindak mempertahankan agama itu. Ia kerana Allah menciptakan manusia berlainan bangsa, dan, bangsa-bangsa yang menganut agama itulah yang wajib mempertahankan agama-Nya.

Di rantau Timur Tengah atau Asia Barat, orang Arab menjadi bangsa majoriti yang mempertahankan Islam meskipun ada sebilangan Arab yang menganut Nasrani. Terasnya ialah orang Arab mempertahankan Islam di rantau sebelah sana. Maka, survival bangsa Arab yang beragama Islam dari segi maruah mereka, ekonomi, politik dan sosial harus dipertahankan oleh orang Arab sendiri.

Manakala di rantau sebelah sini, orang Melayu (induk bangsa di Asia Tenggara) menjadi bangsa majoriti yang menganut dan mempertahankan Islam. Maka, survival orang Melayu beragama Islam dalam segala aspek termasuk maruah, politik, ekonomi dan sosio-kehidupan juga harus dipertahankan oleh orang Melayu sendiri.

Bangsa-bangsa manusia sentiasa meletakkan maruah di tempat pertama, melibatkan maruah agama dan maruah bangsa, maruah itulah yang wajar dipertahankan supaya tidak dipandang hina dan supaya tidak mudah dihina sewenang-wenangnya. Dalam sejarah manusia, siri peperangan dalam tamadun-tamadun besar selalunya berpunca daripada rasa tercabar maruah mereka oleh sesuatu bangsa. Tamadun-tamadun besar itu akan melancarkan perang apabila maruah dan kedaulatan mereka diperlekehkan atau tidak dihormati oleh tamadun lain.

Kalau disingkap sejarah Perang Salib, bangsa Eropah memasuki Palestin dan menyembelih orang Arab Palestin yang beragama Islam. Laskar-laskar Eropah bertindak sedemikian selepas seorang pembesar agama Nasrani (ulama Nasrani) mengeluarkan ‘fatwa’ bahawa orang Arab adalah seperti ‘roh yang tersesat’ (lost souls) yang tercari-cari erti ketuhanan Jesus. 

Akibat daripada fatwa itu, laskar-laskar Eropah memburu semua orang Arab di Palestin dan sekitar Jerusalem untuk dibunuh, ia kerana langkah berkesan untuk mencari orang Islam ialah mereka harus mencari orang Arab terlebih dahulu kerana majoriti orang Arab adalah Muslim. Di rantau sebelah sana, orang Arab adalah majoriti bangsa yang menganut dan mempertahankan Islam, maka mereka dicari untuk dibunuh pada ketika era Perang Salib.

Akibat daripada itu, tentera Arab beragama Islam (majoriti adalah tentera Arab, ada juga tentera Islam dari lain-lain bangsa) pimpinan Salahuddin al-Ayoubi melancarkan serangan balas demi mempertahankan agama yang dianuti oleh majoriti bangsa mereka di rantau sebelah sana. Andai hilang bangsa Arab di rantau sana, maka lemahlah Islam di rantau itu. Maruah bangsa itu diangkat semula oleh Salahuddin demi survival agama Islam.

Di rantau sebelah sini pula, hanya orang Melayu (bersama sub-sub bangsanya: Bugis, Jawa, Palembang dan sebagainya) yang mempertahankan Islam, jika semangat orang Melayu dilemahkan dalam kewajipan mempertahankan maruah mereka, maka tiada bangsa lain yang akan menolong mengembalikan maruah orang Melayu.

Andai maruah itu dipermain-mainkan oleh orang Melayu sendiri di halaman rumah mereka sendiri, maka tiada bangsa lain yang akan menolong mempertahankan maruah mereka. Jangan harap ada bangsa lain yang akan membantu kita untuk mempertahankan maruah kita. Jangan harap.

“Bagi tiap-tiap seorang ada malaikat penjaganya silih berganti dari hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas dan menjaganya (dari sesuatu bahaya) dengan perintah Allah.

 Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya.” - (Quran, ar-Raad: 11)

Allah berkata dengan jelas bahawa Dia tidak mengubah nasib sesuatu kaum sehinggalah kaum itu mengubah diri mereka sendiri. Allah juga berkata dengan jelas bahawa Dia akan mendatangkan bencana kepada mereka andai melakukan kesalahan terhadap diri mereka sendiri. Jadi, apakah kesalahan yang sedang orang Melayu lakukan kepada diri mereka sendiri?

Antara kesalahan itu ialah tidak berusaha mengubah nasib, maruah agama dan maruah bangsa ke arah yang lebih tinggi selari dengan tuntutan agama-Nya. Allah memerintahkan supaya sesuatu kaum itu berubah jika mahu berjaya di jalan-Nya. Itu perintah.

Kalau orang Melayu bertindak mempertahankan Islam di rantau ini, maka taatilah perintah itu. Bangsa yang disegani dalam apa jua tamadun ialah bangsa yang bangga dengan semangat kebangsaan mereka, simpan dulu ayat penyata ini. Itu dari segi semangat kebangsaan politikal perang zaman tamadun besar awal.

Namun kita diterangi Islam, walaupun begitu, Allah memerintahkan supaya sesuatu kaum itu mengubah diri mereka dan Allah akan menurunkan bencana apabila sesuatu kaum itu melakukan kesalahan kepada diri mereka sendiri. Ingat perintah itu. Ulang soalan tadi, apakah kesalahan yang sedang orang Melayu lakukan kepada diri mereka sendiri?

Orang Melayu tidak harus malu menjadi Melayu, ia kerana Melayu itu ditakdirkan mempertahankan Islam di rantau sebelah sini. Wajarkah malu kepada diri sendiri kerana ditakdirkan untuk mempertahankan agama Allah? Orang Melayu sewajarnya bersemangat dan berbangga menjadi Melayu, ia kerana semangat itulah yang akan mendorong kita supaya lebih tabah mempertahankan agama-Nya. Andai kita dalam keadaan rendah maruah, adakah kita akan mampu berhadapan dengan musuh yang bangga dengan bangsa mereka sendiri?

Kalau dipelajari daripada sejarah-sejarah perang, panglima perang akan berucap di hadapan ribuan askar untuk menaikkan semangat askar-askarnya. Semangat askar wajar disemarakkan terlebih dahulu sebelum anak panah pertama dilancarkan terhadap musuh. Itulah pentingnya semangat. Kalau orang Melayu malu kepada diri sendiri, berasa rendah diri terhadap bangsa lain, tidak bersemangat, agak-agaknya boleh berjayakah orang Melayu dalam menempuh cabaran?

Namun, jangan pula orang Melayu lupa kepada perintah Allah dalam ayat-Nya yang lain.

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.” (Quran, al-Maedah: 8)

Di sebalik ayat di atas, difahami secara langsung bahawa Allah memerintahkan kepada kita supaya berlaku adil kepada bangsa lain. Untuk berlaku adil, orang Islam terlebih dahulu harus mempunyai kelebihan iaitu kelebihan dalam pemerintahan. Bagi menepati terhadap maksud ayat itu, orang Melayu beragama Islam wajar sentiasaberada dalam kategori dominan pemerintahan di Malaysia. Dengan menjadi bangsa yang bermaruah dan mendominasi pemerintahan, maka baharulah orang Islam boleh menjalankan keadilan. Andai orang Islam tidak menjadi pemerintah yang menjalankan keadilan, maka selarikah perintah Allah kepada orang Islam terhadap ayat itu?

Allah memerintahkan (melalui kata hendaklah seperti dalam ayat 8 surah al-Maedah) supaya orang Islamsentiasa menjadi orang yang menegakkan keadilan. Jadi, apa syarat-syarat yang perlu dipenuhi sebelum keadilan dapat ditegakkan? Mestilah terlebih dahulu orang Islam perlu menjadi orang bermaruah tinggi yang mentadbir keadilan, setuju?

Masih tidak faham? Untuk berlaku adil, orang Islam harus menjadi pemerintah yang bermaruah, bukan menjadi ‘orang melukut di tepi gantang’ yang tidak mempunyai kuasa untuk menjalankan keadilan. Pemerintah adalah orang yang menjalankan keadilan, bukan menjadi orang yang tertakluk kepada keadilan yang ditetapkan oleh orang bukan Islam.

Untuk menjalankan keadilan, seseorang harus menjadi pemerintah yang menjalankan keadilan. Andai orang Islam tidak menjadi pemerintah, bagaimana orang Islam mahu menjalankan atau memberi keadilan? Untuk menjalankan keadilan, orang Islam harus menjadi dominan terlebih dahulu, dalam erti kata lain ialah mempunyai maruah dan disegani. Itu dari segi konteks negara, bukan dari konteks individual.

Untuk berlaku adil, orang Islam harus mempertahankan maruah mereka sebagai pemerintah andai berada di sebuah negara yang bermajoriti orang Islam seperti negara anda ini. Kalau sesebuah negara yang majoriti orang Islam diperintah oleh orang bukan Islam dari segi penetapan dasarnya, di manakah maruah orang Islam? Siapa pula orang Islam di negara ini kalau bukan majoriti orang Melayu?

Jangan hanya membaca al-Quran tanpa memahami pengertian perintah-Nya. Jangan pula ambil ayat itu sekerat-sekerat seperti yang biasa diucapkan di pentas-pentas politik, fahamilah keseluruhan ayat itu dan taatilah perintah itu. Allah memerintahkan supaya sesuatu kaum itu berlaku adil kepada kaum yang lain. Maka berfikirlah mengenai syarat-syarat yang diperlukan sebelum mampu menjalankan keadilan. Antara syaratnya ialah menjadi pemerintah yang berkuasa terhadap sistem keadilan. Bukan menjadi pak turut yang tidak bermaruah, malu menjadi Melayu yang ditakdirkan mempertahankan Islam di rantau ini, tidak bermaruah sehingga tanpa segan menunduk taat di hadapan orang bukan Islam.

Orang Melayu harus mengembalikan semangat mereka, berbangga menjadi Melayu yang beragama Islam dan ditakdirkan mempertahankan Islam di rantau ini. Semangat memperjuangkan agama yang dianuti oleh orang Melayu, semangat itu harus disemarakkan, bukan dilemahkan dengan sentimen tidak bermaruah sehingga berasa malu dilahirkan sebagai orang Melayu.

Memang, Islam itu lebih tinggi daripada bangsa. Tetapi ingat, bangsa-bangsa yang menganut Islam itulah yang mempertahankan Islam. Andai lemah semangat bangsa yang mempertahankan agama Allah, maka lemahlah umat Islam di rantau ini. Bangsa-bangsa itulah yang mempertahankan ketinggian agama Allah. Di Malaysia, bangsa itu adalah Melayu.

Untuk memahami perkara yang mana perlu didahulukan, wajar kita mengingati satu riwayat hadis. Saya tidak ingat keseluruhan susunan ayat hadis itu secara tepat bagi tiap-tiap pemilihan perkataan, cukuplah sekadar mengimbas kisah yang terdapat di dalam hadis itu.

Penceritaan hadis itu berbunyi seperti ini (bukan dari segi susunan ayat hadis, tetapi dari segi penceritaan):

Fatimah bertanya kepada Rasulullah (ayahandanya) mengenai siapakah wanita pertama yang akan memasuki syurga kerana taat kepada suami dan agama Allah. Rasulullah menjawab, ia adalah seorang wanita yang tinggal di sebuah rumah di Madinah. Mendengar jawapan daripada baginda, Fatimah pun pergi ke rumah wanita itu dan melihat bagaimana wanita itu taat kepada suaminya dan perintah Allah. Setelah menyaksikan sendiri ketaatan wanita itu, Fatimah kembali menemui Rasulullah dan bertanya adakah dia akan menjadi wanita pertama memasuki syurga andai melakukan perkara yang sama. 

Baginda menjawab, tidak, baginda memberitahu bahawa Fatimah akan menjadi wanita kedua memasuki syurga selepas wanita itu masuk. Fatimah kemudian menangis kerana tidak menjadi wanita pertama masuk ke syurga. Rasulullah tersenyum melihat tangisan puterinya dan berkata, wanita itu masuk ke syurga terlebih dahulu kerana dialah yang akan menyambut dan meraikan kehadiran Fatimah ke dalam syurga Allah. Fatimah kemudian tersenyum.

Ia bermaksud, wanita itu masuk ke syurga terlebih dahulu kerana dia akan menyambut dan meraikan Fatimah yang masuk selepas itu.

Melalui kisah antara Rasulullah dengan puterinya, fahamkah kita terhadap pengertian yang mana satu di-kemudiankan dan mengapa ia tidak didahulukan?
Diulangi, memang Islam itu lebih tinggi daripada bangsa. Tetapi ingat, bangsa-bangsa yang menganut Islam itulah yang mempertahankan Islam. Andai lemah semangat bangsa yang mempertahankan agama Allah, maka lemahlah umat Islam di rantau ini. Bangsa-bangsa itulah yang mempertahankan ketinggian agama Allah. Di Malaysia, bangsa itu adalah Melayu.

Allah sentiasa memelihara Islam, tetapi Islam juga akan terus terbela jika ada kelompok manusia yang mempertahankannya. Di Malaysia, siapakah kelompok itu? Andai Melayu adalah bangsa yang majoriti mempertahankan Islam, maka orang Melayu wajar diperkuatkan semangat mereka, bukan diperlemahkan oleh doktrin politik yang dicanang bangsa mereka sendiri. Tanpa semangat yang kental iaitu berselaput rasa malu dalam diri dengan tidak bangga menjadi Melayu, adakah orang Melayu beragama Islam akan mampu menghadapi cabaran yang sengit daripada bangsa lain?

Cuba lihat bangsa lain di Malaysia. Adakah mereka menghina bangsa sendiri dan berasa malu dilahirkan dalam kelompok bangsa mereka? Tidak, mereka tidak menghina bangsa mereka dan mereka berbangga dengan kebangsaan mereka. Apabila ada orang Melayu yang menghina bangsa sendiri dan malu menjadi Melayu, adakah bangsa lain melahirkan simpati kepada bangsa Melayu? Jawapannya juga tidak. Mereka langsung tidak ambil peduli kalau orang Melayu berasa begitu.

Tetapi apabila bangsa lain berasa terhina akibat sesuatu perbuatan kaum-kaum lain, apakah yang bangsa itu akan lakukan terhadap kaum-kaum yang disifatkan menghina mereka apabila mereka berasa seperti dihina? Mereka akan segera bangkit mempertahankan maruah bangsa mereka. Mereka akan tegas mengatakan bahawa kaum yang membuat mereka berasa terhina itu sebagai racist. Tetapi apakah yang orang Melayu lakukan kepada bangsa lain apabila orang Melayu dihina? Orang Melayu hanya duduk diam tanpa berbuat apa-apa, kerana apa? Kerana orang Melayu berasa malu kepada diri sendiri, apatah lagi untuk mempertahankan maruah bangsa sendiri.

Apabila Melayu melaungkan semangat kebangsaan, orang Melayu akan segera dilabel sebagai racist. Orang Melayu seperti tidak boleh langsung berbuat apa-apa untuk membangkitkan semangat kecintaan terhadap bangsa mereka yang ditakdirkan mempertahankan Islam di bumi Malaysia ini. Apa sahaja yang orang Melayu lakukan demi survival agama dan bangsa, orang Melayu akan sentiasa segera dilabel sebagai racist. Ditelan mati emak, diluah mati bapa. Semua serba salah jadinya.

Untuk memahami keadaan sedemikian kita wajar meneliti sikap orang Yahudi yang sangat mudah melabel seseorang sebagai anti-Semitik apabila bangsa mereka dikritik, ditempelak atau mengeluarkan sesuatu kenyataan yang membuat mereka berasa seperti dihina.

Namun apabila ada orang menghina bangsa Arab, tidak pula orang Yahudi terhegeh-hegeh melabel orang itu sebagai anti-Semitik kerana orang Arab juga adalah dari keluarga bangsa Semitik. Hanya apabila bangsa Yahudi dikritik, maka orang yang mengkritik itu akan segera dilabel sebagai anti-Semit, tetapi tidak berlaku perkara yang sama apabila keluarga bangsa Semitik lain yang dikritik.

Yahudi dan Arab adalah dari kelompok bangsa Semitik dari keturunan Sem iaitu salah seorang daripada puteraNabi Nuh selepas peristiwa Banjir Besar. Namun, apabila dirujuk kepada istilah anti-Semitik, ia diistilahkan kepada anti-Yahudi semata-mata tanpa merujuk kepada pengertian Semitik yang sebenarnya. Malah di Amerika, seseorang yang mengeluarkan kenyataan anti-Semitik akan segera dihadap ke mahkamah untuk dibicarakan dan diberi hukuman kerana bersikap racist.

Keadaan yang berlaku di Malaysia pula hampir sama, namun hukumannya pula adalah dari segi tekanan kepada bangsa Melayu. Hal ehwal agama, budaya dan hak orang Melayu sentiasa dipersoal, ia bukan sahaja dipersoal oleh bangsa lain, tetapi ada di kalangan bangsa Melayu sendiri yang melakukannya. Namun apabila ada orang Melayu yang mempersoal kebiadapan bangsa lain, maka orang Melayu akan segera dilabel sebagai racist. Bangsa lain boleh mempersoalkan, tetapi orang Melayu tidak boleh mempersoalkan mereka. Hampir sama dengan situasi masalah istilah anti-Semitik.
-----
Orang Melayu menghadapi konflik identiti yang kronik dalam sudut semangat kebangsaan mereka. Ia menjadi lebih parah apabila ada orang Melayu sendiri yang melemahkan semangat itu sebagai alasan supaya berlaku adil kepada bangsa lain sebagaimana diperintahkan Allah. Cuba renungkan kembali pengertian ayat 8 dalam surah al-Maedah, apakah yang kita faham mengenai syarat-syarat yang diperlukan sebelum boleh menjalankan keadilan?

Pertama sekali ialah orang Islam wajar menjadi pemerintah yang bermaruah, mempunyai kuasa membuat keputusan dalam menjalankan keadilan, berperanan dominan dalam hal ehwal yang teras demi kepentingan semua pihak terutama umat Islam, tidak malu menjadi diri sendiri untuk mengubah nasib diri, tidak berasa rendah diri, tetapi tidak pula bongkak di atas muka bumi. Apabila sudah cukup syarat-syarat itu, baharulah orang Islam yang majoritinya orang Melayu di negara ini akan dihormati dan menghormati diri sendiri serta berupaya menjalankan keadilan seperti yang diperintahkan Allah.

Andai orang Melayu beragama Islam yang rendah maruah dirinya tidak mempunyai kuasa dalam membuat keputusan dan rendah maruah diri, adakah orang Melayu akan dihormati? Tidak, tidak dan tidak. Kalau orang Islam tidak menghormati diri sendiri, jangan harap akan ada orang lain yang akan menghormati kita. Jangan harap.

Kalau syarat-syarat itu tidak dipenuhi, bagaimana orang Islam mahu menjalankan keadilan terhadap kaum lain? Untuk menjadi bapa yang baik, seseorang lelaki harus berkahwin dan mempunyai anak terlebih dahulu sebagai langkah pertama. Itulah syarat pertama yang wajar dipenuhi untuk menjadi bapa yang baik. Bagaimana untuk menjalankan keadilan kepada kaum-kaum lain? Syarat pertama ialah menjadi dominan dalam pemerintahan terlebih dahulu supaya semua urusan keadilan tertakluk di bawah keputusan orang Islam. Bukannya menjadi orang Islam yang melukut di tepi gantang mengharapkan ehsan supaya diberikan sedikit kuasa oleh orang bukan Islam. Faham?

Bagi memenuhi syarat itu, langkah pertama ialah orang Melayu wajar kembali bersemangat mempertahankan maruah, bukan terus hidup terhimpit bagai ditelan mati emak dan diluah mati bapa. Bangsa-bangsa lain tidak pernah merendah-rendahkan bangsa mereka sendiri, tetapi mengapa mesti ada orang Melayu yang berasa malu dengan bangsa sendiri sedangkan orang Melayu adalah ditakdirkan untuk menjaga maruah Islam di rantau sebelah sini? Allah memilih orang Melayu untuk menjadi bangsa majoriti di rantau ini untuk menganut agama-Nya. Andai semangat bangsa Melayu makin lemah disebabkan oleh lidah-lidah pemimpin yang melemahkan jati diri mereka, bagaimana orang Melayu mahu terus kuat dalam mempertahankan Islam?

Ada yang berkata, mereka tidak bangga menjadi Melayu tetapi berbangga menjadi Islam. Tetapi ingatlah bahawa Islam itu dipertahankan di muka bumi oleh bangsa-bangsa manusia yang menganuti agama Allah. Manusia dijadikan berbilang bangsa, agama Allah pula adalah untuk seluruh manusia, manakala bangsa-bangsa manusia yang menganut agama Islam itulah yang mempertahankan agama Allah.

Sama juga kalau diibaratkan seperti: Hanya roh yang kekal, tetapi bukan jasad. Tetapi ingatlah bahawa jasad itulah yang menjadi alat kepada roh untuk melakukan kebaikan. Islam diibaratkan sebagai roh, jasad itu pula adalah Melayu. Andai jasad itu mati, maka jasad akan hanya tinggal jasad yang akan musnah reput di dalam tanah. Maka roh akan kembali kepada Tuhannya. Apabila Melayu menjadi lemah dan tidak bersemangat dalam mempertahankan bangsanya yang majoriti Islam, maka Islam akan terkapai-kapai di Malaysia.

Mungkin akan ada yang mengatakan Umat Terakhir sebagai racist apabila berbicara mengenai Melayu. Kita tidak menghina bangsa lain, tetapi sebaliknya kita menjelaskan bahawa bangsa lain sangat berbangga dengan diri mereka. Kita tidak menghina bangsa lain, tetapi kita menceritakan mengenai ada orang Melayu sendiri yang malu dilahirkan sebagai Melayu sehingga luntur semangat jati dirinya. Malu tidak bertempat di tempat sendiri seperti sudah tiada tempat untuk memahkotakan maruah di bumi sendiri.

Kalau mahu berperang, pilihlah panglima yang mampu menaikkan semangat para laskar-laskarnya. Bukan memilih sang pengecut yang luntur semangatnya dan galak pula melemahkan semangat orang lain supaya menjadi pengecut dan pemalu sepertinya. Orang tidak menunduk malu di medan juang kerana kepala yang tunduk itu lebih mudah dicantas pedang pihak lawan. Orang berperang dengan penuh semangat juang, berbangga menjadi bangsa bermaruah di medan juang untuk agamanya. Itulah caranya orang pergi berperang.

Maruah orang Melayu diperlekeh selama 457 tahun. Sepanjang 457 tahun, orang Melayu berusaha mengembalikan maruah mereka sehingga mengecap merdeka. Sesudah merdeka pula, orang Melayu terus cekal berusaha mengembalikan maruah mereka supaya tidak lagi dipermain-mainkan di tanah air mereka sendiri, gigih memartabatkan bangsa serta agama dan institusi raja-raja Melayu. 

Malangnya, ada orang Melayu sendiri yang memperlekeh perjuangan bangsa sendiri disebabkan bantal dan tilam empuk yang menghadirkan mimpi-mimpi politik, kuasa membuat keputusan dalam berpolitik pula tidaklah sehebat mana, hanya seperti hidup berpoligami dalam politik. Wajarkah orang seperti itu yang diangkat menjadi panglima bagi orang Melayu beragama Islam?

Melayu dan Islam itu tidak sama. Islam itu lebih tinggi daripada Melayu. Tetapi ingatlah bahawa Islam itu dipertahankan di muka bumi oleh bangsa-bangsa manusia yang menganuti agama Allah. Di Malaysia, bangsa itu adalah Melayu. Berbanggalah menjadi Melayu, bersemangatlah Melayu, bermaruahlah Melayu, demi agama mu.

Aku pula bukan 100 peratus berdarah Melayu. Tetapi aku meminta supaya orang Melayu berbanggalah menjadi Melayu, tanpa rasa malu, bersemangat kental menempuh cabaran dan tidak mudah layu apabila ada di kalangan bangsamu sendiri yang melemahkan jati diri mu, bersemangatlah Melayu demi agama mu, Islam, yang sama dengan agama ku.

Orang-orang Melayu yang memahami maksud aku ini, aku mohon bantuan kamu semua supaya bersegera bangkitkan semangat bangsa kamu tanpa menyakiti bangsa lain, jadikan bangsa kamu sebagai bangsa yang bermaruah dan berbangga dilahirkan Melayu untuk memartabatkan Islam di rantau ini. Ajarkan Islam kepada sesama manusia, jangan terlalu asyik mengajar politik kepada mereka hanya semata-mata mahu sokongan bangsa lain. Jatuh bangun bangsa Melayu berada di atas bahu orang Melayu sendiri. Jangan harap bangsa lain akan membantu kamu melainkan orang Melayu sendiri berusaha mengubah diri sendiri.
-----
Fahamilah ayat Allah, taatilah perintah-Nya:

“Bagi tiap-tiap seorang ada malaikat penjaganya silih berganti dari hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas dan menjaganya (dari sesuatu bahaya) dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana(disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya.” - (Quran, ar-Raad: 11)

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil(kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.” (Quran, al-Maedah: 8)

Friday, 10 May 2013

BATU TERAPUNG..di udara..ISROK MEKROJ..Nabi Muhammad SAW.


info pagi..
Bukti kebesaran Allah SWT batu tempat duduk Nabi Muhammad SAW sewaktu Israk Mikraj sampai kini masih tetap terapung di udara.

Pada saat Nabi Muhammad hendak Mikraj batu tersebut nak ikut bersama, tetapi Nabi SAW menghentakkan kakinya pada batu tersebut, maksudnya agar batu tersebut tidak dibenarkan ikut.
Kisah Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW tentang batu gantung tersebut yang berada dalam masjid Umar (Dome of the Rock) di Lingkungan Masjidil AL AQSA di Yarusalem (Baitulmuqadis).

Foto ini dari teman (nama dirahsiakan) sewaktu melawat Al Aqsa (yg sebenarnya) di Jerusalem, Subhanallah ... !! Foto ini dapat diambil kerana tidak diketahui oleh pihak Israel yang berkawal dan menjaga tempat tersebut dengan ketat.

Sampai sekarang masjid home of rock ditutup untuk umum, dan Yahudi membuat masjid lain Al Sakhra tak jauh disebelahnya dengan kubah "emas" (yg sering kelihatan di poster2 yg disebarkan ke seluruh dunia dimana2) dan disebut sebagai Al Aqsa, untuk mengaburi ummat Islam dimana masjid Al Aqsa yang sebenarnya, yang Nabi Muhammad SAW pernah sebutkan Al Aqsa sebagai "masjid kubah biru".

Sekarang ini masjid Al Aqsa yg sebenarnya sudah diambil alih oleh Israel dan merancang untuk dihancurkan dan diganti sebagai tempat ibadah mereka kerana bersebelahan dengan tembok ratapan bangsa Yahudi

* SHARE MAKLUMAT INI KEPADA KAWAN2 ANDA DIFACEBOOk!
Bukti kebesaran Allah SWT batu tempat duduk Nabi Muhammad SAW sewaktu Israk Mikraj sampai kini masih tetap terapung di udara.

Pada saat Nabi Muhammad hendak Mikraj batu tersebut nak ikut bersama, tetapi Nabi SAW menghentakkan kakinya pada batu tersebut, maksudnya agar batu tersebut tidak dibenarkan ikut.

Kisah Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW tentang batu gantung tersebut yang berada dalam masjid Umar (Dome of the Rock) di Lingkungan Masjidil AL AQSA di Yarusalem (Baitulmuqadis).

Foto ini dari teman (nama dirahsiakan) sewaktu melawat Al Aqsa (yg sebenarnya) di Jerusalem, Subhanallah ... !! Foto ini dapat diambil kerana tidak diketahui oleh pihak Israel yang berkawal dan menjaga tempat tersebut dengan ketat.

Sampai sekarang masjid home of rock ditutup untuk umum, dan Yahudi membuat masjid lain Al Sakhra tak jauh disebelahnya dengan kubah "emas" (yg sering kelihatan di poster2 yg disebarkan ke seluruh dunia dimana2) dan disebut sebagai Al Aqsa, untuk mengaburi ummat Islam dimana masjid Al Aqsa yang sebenarnya, yang Nabi Muhammad SAW pernah sebutkan Al Aqsa sebagai "masjid kubah biru".

Sekarang ini masjid Al Aqsa yg sebenarnya sudah diambil alih oleh Israel dan merancang untuk dihancurkan dan diganti sebagai tempat ibadah mereka kerana bersebelahan dengan tembok ratapan bangsa Yahudi

* SHARE MAKLUMAT INI KEPADA KAWAN2 ANDA DIFACEBOOk!
Like ·  ·  · 49 minutes ago ·