CLICK at HOME…If it said this blog does not exist.

Saturday, 11 June 2011

Rusia-Akan-Menjadi-Negara-Muslim.



RASAkkb..KERUINGku VOICE..Benarlah Hadis Nabi : Dunia akan kembali ISLAM...sebelum QIAMAT...anak anak orang Islam menjadi KAFIR...anak anak orang kafir...menjadi MUKMIN...sehinggalah orang ARAB...benar benar menjadi MUKMIN...majoriti negara ARAB sekarang dipimpin oleh para MUNAFIK bersekongkol dengan kafirin Barat Laknatullah..RASAkkb..KERUINGku VOICE..

Bayangkan Rusia pada tahun 2050! Menurut Paul Goble, seorang spesialis yang secara khusus melakukan kajian terhadap minoritas etnis di Federasi Rusia, nampaknya ia memperkirakan dalam beberapa dekade mendatang, Rusia akan menjadi sebuah negara mayoritas Muslim. Sekarang jumlah Muslim di seluruh Rusia mencapai 16 juta jiwa.

Disisi lain, ada berita buruk dengan penurunan yang cepat jumlah populasi negeri Beruang Merah ini. Melihat kecenderungan populasi penduduk Rusia yang terus cenderung menurun itu telah menjadi "pusing" bagi para politisi Rusia dan para pembuat kebijakan.
Presiden Vladimir Putin telah menyerukan kepada perempuan Rusia untuk memiliki anak lagi. Karena ahli demografi memprediksi bahwa populasi Rusia akan turun secara drastis dari 143 juta jiwa menjadi 100 juta jiwa pada tahun 2050.
Perkembangan dan situasi ini mengejutkan bagi para pemimpin Rusia dan Barat, karena bersamaan menurunnya populasi penduduk Rusia, para analis memperkirakan jumlah umat Islam akan menjadi kelompok mayoritas di Russia. Hanya kurang dari lima dekade Rusia akan menjadi negeri Muslim, yang mayoritas peduduknya beragama Islam.
Laju pertumbuhan populasi Muslim sejak tahun 1989, dieprkirakan mencapai antara 40 dan 50 persen, dan ini kecenderungan semua kelompok etnis. Saat ini Rusia memiliki sekitar 8.000 masjid sementara 15 tahun yang lalu, hanya terdapat 300 masjid di seluruh Rusia.
Menurut data statistik, pada akhir 2015, jumlah masjid di Rusia akan meningkat drastis menjadi 25.000 masjid di seluruh Rusia. Statistik ini menakutkan banyak etnis Rusia lainnya, yang sangat phobi dengan Islam, yang selalu mengaitkan Islam dengan perang dan terorisme. Seperti, sering terjadinya konflik bersenjata antara aparat keamanan Rusia dengan kelompok Chechnya, dan wilayah Kaukasus yang mayoritas Muslim. Namun, kekawatiran itu meluai menyurut, bersamaan dengan perubahan-perubahan yang ada, khususnya dikalangan penduduk Muslim dan para pemimpinnya yang semakin akomdatif.
Menghadapi penurunan populasi atau jumlah penduduk etnis Rusia itu, yang terus menurun, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin telah menawarkan insentif kepada wanita yang akan memiliki anak lagi.
Dia mengatakan bahwa pemerintah akan menawarkan 1.500 rubel untuk anak pertama, dan 3.000 rubel untuk anak kedua. Dia lebih lanjut mengatakan bahwa pemerintah akan menawarkan insentif keuangan bagi pasangan yang akan mengadopsi anak yatim Rusia. Tapi, tanggapan terhadap seruan Vladimir Putin hampir nol. Alasan utama di balik penurunan cepat dalam populasi non-Muslim di Rusia, terutama sebagian besar perempuan muda di negara ini tidak tertarik dan mendukung memiliki anak lagi.
Jika seseorang terbatas hanya memilik anak satu-satunya, dan kemudian generasi berikutnya sama sekali tidak ingin memiliki anak, maka pertumbuhan penduduk Rusia menjadi nol. Di sisi lain, hampir semua pasangan muslim sedikitnya memiliki tiga anak. Jumlah keluarga muslim umumnya mereka mempunyai anak antara 3-5 orang anak.
Berbicara dengan Blitz, seorang pemimpin Moscow, daerah yang paling padat penduduknya, mengatakan jika pertumbuhan penduduk Muslim terus meningkat, dan dengan penurunan yang serius pada populasi komunitas agama lain, Rusia pada akhirnya akan menjadi sebuah negara Muslim pada dua dekade mendatang.
Dia menyarankan propaganda besar-besaran demi memiliki anak lagi di Rusia dengan menggunakan media massa serta peningkatan jumlah insentif. Ia juga menunjuk fakta bahwa, dalam banyak kasus, insentif tersebut jatuh lagi ke ibu muslim, yang umumnya memiliki lebih dari satu anak.
Ini bukan masalah tentang insentif, yang lebih penting realisasinya bagi penduduk seluruh Rusia yang non-Muslim. Mereka harus memahami bahwa dengan jumlah anak Muslim yang banyak, mereka secara bertahap ikut mendorong nasib negara Rusia menuju federasi Islam.
Mengomentari masalah ini, mantan seorang diplomat mengatakan, setelah jatuhnya Uni Soviet, sayangnya, seluruh bangsa Rusia telah kehilangan semangat nasionalisme mereka, karena kemiskinan dan kondisi yang sangat malang yang mereka hadapi, baik di bidang ekonomi, politik, dan sosial.
Sekarang mereka takut memiliki lebih dari satu anak dalam keluarga, karena akibat biaya hidup yang sangat mahal. Sementara dalam banyak kasus, keluarga perempuan Rusia dipaksa untuk bekerja di berbagai sektor bidang untuk mendapatkan uang ekstra bagi k keluarga mereka.
Ia mengatakan, tidak hanya jumlah populasi Muslim di Rusia,yang mengalami pertumbuhan cepat, karena memang perempuan Muslim memiliki lebih satu anak, tapi dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar LSM Islam aktif bekerja di dalam negeri Rusia, yang memainkan peran penting, terutama bagi penduduk Rusia yang putus asa, dan sebagian besar mereka memilih jalan hidup yang baru, dan mereka bertobat kemudian masuk Islam. Mereka umumnya meninggalkan agama sebelumnya yang mereka anut. Dia lebih lanjut mengatakan, terutama kelompok atheis secara bertahap semakin cenderung ke arah Islam, karena propaganda luas dan kegiatan LSM Islam.
Mereka yang berpendidikan sarjana terlibat aktif dalam memberikan khotbah di masjid-masjid dan tempat-tempat umum lainnya secara teratur, yang mempunyai dampak luar biasa pada pikiran orang-orang Rusia, terutama generasi mudanya. Para ulama Islam dengan jas dan wajah dicukur bersih, mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda serta lancar, yang merupakan titik yang sangat kuat bagi mereka untuk menarik perhatian orang Rusia yang berpendidikan, yang berada dalam kesulitan ekonomi dan sosial yang serius.
Dia mengatakan, kegiatan LSM Islam mempunyai pengaruh yang luas, dibandingkan hampir tidak ada atau sangat sedikit kegiatan misionaris dari agama agama lain di Rusia. Meskipun ulama Islam dan mereka memiliki misi yang sering disebut "tersembunyi" , tetapi dari wajah mereka, saat menyampaikan khotbah, sangat sulit untuk mengidentifikasi apa pun yang negatif terhadap kegiatan mereka.
Mereka awalnya menyebarkan pesan perdamaian, tetapi mereka juga menyampaikan nilai-nilai agama dan jihad. LSM-LSM Islam secara bertahap menggunakan media Rusia, melalui investasi negara-negara Barat, yang sebenarnya menggunakan dana dari negara-negara Arab. Mereka juga ikut terlibat dalam aktivitas politik, seperti pemilihan, dan memberikan suara dan kekuatan untuk para calon pemimpin Muslim, tentu dengan tujuan nantinya akan memiliki akses kekuasaan di Kremlin.
Membandingkan Muslim Rusia dengan Muslim di negara-negara lain, katanya, mereka memiliki komitmen yang lebih kuat, dan keyakinan mereka yang mendalam berakar dalam pikiran mereka yang bernar-benar dari ajaran Islam. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa, alasan utama di balik menerima Islam adalah menyelamatkan hari depan mereka. Mereka menghadapi situasi yang sulit berkaitan dengan konflik yang masih terjadi di wilayah Chechnya dan Kaukasus. Tetapi, mereka tetap optimis terhadap kehidupan mereka.
Seorang wartawan senior kantor berita Rusia Interfax, Blitz mengatakan, berdasarkan dari sumber Afro-Arab, sejumlah negara Arab melakukan investasi jutaan dolar kepada sejumlah LSM Islam di Rusia. Dalam waktu dekat, cukup banyak kursi penting di parlemen Rusia juga akan jatuh ke tangan para pemimpin Muslim.
Dia mengatakan, di klub pers Rusia, sejumlah wartawan Muslim terus meningkat. Dia mengatakan, jutaan dolar yang dihabiskan untuk membangun masjid dan lembaga-lembaga Islam di berbagai belahan Moskow dan bagian lain di Rusia.
LSM Islam bahkan membangun panti asuhan, tempat anak-anak dari berbagai agama yang diadopsi, dan mereka mendapatkan pendidikan Islam, dan menjadi Muslim yang taat. Masa depan Islam di Rusia sangat menggembirakan. (mh)/eramuslim

AbdurRahman-Al-Ghafiqi-Panglima-Perang ISLAM.


Seorang sastrawan Inggris, Southy, menuliskan tentang pasukan Islam yang menyerbu daratan Eropah setelah menguasai Andalusia, dia berkata:

“Banyaknya pasukan tidak terhitung jumlahnya, ada yang dari suku Arab Barbar, Romawi, Persia, Qibti, Tartar,…semua berkumpul di bawah satu panji, disatukan oleh panglima yang agung. Kekuatannya tangguh, semangatnya bergelora seperti api dan rasa persaudaraannya begitu mengagumkan, tak membeda-bedakan sesama manusia.

Dalam jiwa pemimpin dan yang dipimpin tertanam tekad yang bulat untuk berjuang. Mereka optimis akan kekuatannya yang tak terkalahkan, dan yakin bahwa pasukannya tak akan menemukan kesulitan. Optimis bahwa setiap langkah akan diikuti oleh kemenangan. Mereka terus maju dan maju hingga dunia Barat takluk pada dunia Timur, tertunduk menghormati nama Muhammad saw.

Orang-orang dari kutub yang penuh dengan pegunungan es yang dingin membeku datang jauh-jauh untuk melaksanakan haji. Melintasi sahara dengan kaki talanjang dengan penuh iman, berjalan di gurun pasir yang panas di Arab, berdiri di atas terjalnya bebatuan di Makkah.”

Memang, apa yang Anda katakan tidak jauh dari kenyataan. Khayalannya pun tidak meleset. Prajurit yang dipimpin oleh para mujahidin itu memang ingin membebaskan nenek moyang Anda dari kegelapan jahiliyah, seperti yang Anda sebutkan.

Ikut serta dalam pasukan tersebut orang-orang Arab yang perkasa. Allah telah membangkitkan mereka dan membimbing mereka untuk mendatangi kalian dari Syam, Hijaz, Najd, Yaman dan pelosok-pelosok jazirah Arab, menggulung segala sesuatu laksana badai. Mereka disertai pula oleh orang-orang Barbar yang bangga akan keislamannya, yang turun dari pegunungan Atlas, menyapu bagaikan air bah. Juga orang-orang Persia, yang telah terlepas dari belenggu paganisme kaisar-kaisarnya dan masuk ke dalam agama tauhid, jalan yang lurus. Tak ketinggalan pula orang-orang Romawi, pembelot menurutmu, memang mereka membelot dari kezhaliman dan kegelapan menuju cahaya terangnya langit dan bumi dan menerima hidayah menuju agama yang suci. Kemudian orang-orang Qibti, yang bebas dari perbudakan dan belenggu yang mencekik leher, beralih kepada kehidupan yang bebas merderka di bawah panji Islam, kembali suci seperti saat dilahirkan ibunya.

Tepat sekali, memang pasukan pimpinan Abdurrahman Al-Ghafiqi maupun para penghulunnya datang untuk melepaskan nenek moyang kalian dari belenggu jahiliyah. Di antara mereka ada yang berkulit putih, hitam, Arab, dan Ajam (non-Arab). Tapi mereka bersatu dalam Islam. Nikmat Allah menjadikan mereka bersaudara. Semangat mereka seperti yang engkau sebutkan adalah untuk memasukkan orang-orang Eropa ke dalam agama Allah sebagaimana orang-orang di belahan bumi bagian Timur dan Afrika. Sehingga umat manusia seluruhnya tunduk kepada Allah, pencipta alam semesta.

Dengannya cahaya Islam akan menyinari dataran dan lembah kalian, mataharinya memancar di setiap rumah kalian dan keadilan tegak di antara rakyat dan penguasa kalian. Mereka bertekad mengorbankan nyawa mereka yang berharga untuk membimbing kalian ke jalan Allah dan menyelamatkan kalian dari api neraka.

Sekarang marilah kita ikuti akhir perjalanan pasukan Islam dan panglimanya yang agung, Abdurrahman Al-Ghafiqi.

Kabar tewasnya Utsman bin Abi Nus’ah dan nasib putrinya yang jelita, Minin, mengejutkan Duke Octania. Dia sadar bahwa genderang perang telah ditabuh. Cepat atau lambat singa Islam, Abdurrahman Al-Ghafiqi akan menyerbu kapan saja, tak peduli siang atau malam.

Kaisar Duke Octania segera mempersiapkan diri untuk mempertahankan setiap jengkal wilayahnya. Hanya saja bayang-bayang buruk selalu menghantuinya. Dia khawatir akan menjadi tawanan kaum muslimin seperti putrinya yang kini dikirim ke Syam. Dia takut kepalanya akan dipenggal kemudian ditaruh di atas talam dan diarak keliling kota seperti Loderik, raja Andalusia dahulu.

Dugaan Duke Octania tepat, tiba-tiba Abdurrahman Al-Ghafiqi benar-benar datang bersama pasukan yang luar biasa besarnya, menyerbu dari Spanyol utara bagai gelombang pasang dan turun ke wilayah Prancis selatan dari pegunungan Pyerenees laksana air bah. Prajuritnya mencapai 100 ribu orang dan setiap batalyonnya didampingi oleh prajurit-prajurit pilihan yang bertubuh tinggi besar.

Prajurit Islam masuk melalui kota Arles yang terletak di tepi sungai Rhone. Pertimbangannya adalah karena kota ini terikat perjanjian damai dengan muslimin dan telah menyetujui kewajiban membayar jizyah. Namun ternyata, setelah gubernur As-Samah bin Malik Al-Khaulani gugur di Toulouse dan kekuatan muslimin melemah, mereka melanggar perjanjian dan menolak membayar jizyah.

Kedatangan Abdurrahman Al-Ghafiqi dan pasukannya di perbatasan Azil, disambut oleh pasukan besar yang disiapkan oleh Duke Octania untuk menghambat gerak maju pasukan Islam. Dua kekuatan berhadapan. Perang besar tak terelakkan lagi.

Pasukan pertama yang dikerahkan Abdurrahman Al-Ghafiqi adalah pasukan khusus yang lebih mencintai mati daripada kecintaan musuh terhadap kehidupan. Mereka berhasil menggoyahkan dan memporak-porankan barisan musuh. Pertempuran terus merambat ke dalam kota. Pedang-pedang berkelebat membabat kiri-kanan. Pasukan Islam mendapatkan hasil ghanimah di luar perhitungan.

Namun sayang, Duke Octania berhasil meloloskan diri dari medan beserta sisa-sisa pasukannya. Sehingga dia masih menyimpang potensi bersiap-siap menyongsong pertempuran selanjutnya, sebab dia sadar bahwa pertempuran di Arles baru awal dari suatu perang yang panjang.

Bersama pasukannya, Abdurrahman Al-Ghafiqi menyeberangi sungai Garonne. Kemenangan demi kemenangan mereka raih. Satu demi satu kota-kota Octania dapat direbut melalui pasukan kavelerinya, seperti daun-daun yang berguguran diterpa angin. Ghanimah makin menumpuk hingga mencapai jumlah yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Duke Octania berusaha membendung pasukan Islam untuk kedua kalinya dengan mempersiapkan suatu pertempuran besar. Namun kali ini pun pasukan Islam mampu mengatasinya. Mereka menghajar dan meluluh lantakkan pasukannya. Duke Octania kembali lolos meninggalkan pasukannya yang kocar-kacir. Banyak yang gugur, tidak sedikit yang tertawan dan ada pula yang lari dari medan perang.

Target serangan berikutnya adalah Bordeaux, kota terbesar di Prancis pada waktu itu sekaligus merupakan ibukota Octania. Perang untuk memperebutkan Bordeaux tak kalah serunya dengan peperangan yang telah lalu. Sistem pertahanannya tentu lebih kokoh. Tapi dengan perjuangan yang tak kenal lelah, kota besar ini dapat direbut oleh pasukan Islam seperti kota-kota lainnya. Para panglima musuh gugur sebagaimana teman-teman yang telah mandahului mereka.

Banyak sekali harta ghanimah yang diperoleh dalam perang ini. Tapi yang lebih penting adalah jatuhnya Bordoeaux merupakan kunci pembuka kota-kota penting di Prancis lainnya, seperti Lyon, Besancon dan Sens sehingga posisi pasukan Islam saat itu tinggal seratus mil saja dari Prancis.

Dunia Eropa tersentak mendapati bahwa Prancis Selatan telah takluk di tangan Abdurrahman Al-Ghafiqi dalam waktu beberapa bulan saja. Maka dunia Barat terbuka akan bahaya besar yang menghadang mereka.

Anjuran partisipasi menggaung di seluruh penjuru Eropa. Setiap orang, mampu atau tidak, diharapkan partisipasinya untuk membendung arus timur yang deras itu. Bila tak mampu membendung dengan pedang, hendaknya menahan dengan dadanya. Bila senjata habis hendaknya jalanan ditutup dengan tubuh mereka. Eropa bangkit menyambut seruan itu. Orang-orang berdatangan dari dari segala penjuru dengan membawa apa saja yang bisa digunakan, batu-batu, kayu, duri dan pedang. Mereka bersatu padu di bawah komanda Karel Martel.

Dalam waktu yang bersamaan, pasukan muslim telah tiba di Tours, kota Prancis padat penduduknya dan menyimpan bangunan-bangunan tua yang indah. Kota ini bangga dengan gereja-gereja besarnya yang terindah di seluruh Eropa dan berisi penuh kekayaan yang tak ternilai harganya. Prajurit Islam mengepung melingkar layaknya kekang kuda yang melingkari leher kuda. Mereka siap berkorban nyawa untuk merebut kota ini. Dan benar, Tours jatuh di depan mata dan pendengaran Karel Martel.

Akhir bulan Sya’ban 104 H Abdurrahman Al-Ghafiqi bersama pasukannya yang gagah perkasa memasuki kota Poiters. Mereka disambut oleh pasukan besar Eropa yang dipimpin oleh Karel Martel. Perang dahsyat antara kedua pasukan itu tidak hanya tercatat dalam sejarah Islam dan Barat saja, melainkan juga dalam sejarah umat manusia. Pertempuran itu dikenal dengan nama Balath syuhada, karena banyaknya prajurit Islam yang syahid.

Ketika pasukan Islam benar-benar dalam puncak kejayaan yang gemilang. Namun sayang, punggung-punggung mereka terlalu berat memikul hasil ghanimah yang melimpah ruah. Abdurrahman Al-Ghafiqi menyaksikan itu dengan sedih dan khawatir. Beliau mengkhawatirkan kondisi pasukan. Bagaimana bisa tenang sementara hati dan pikiran para prajuritnya mulai beralih kepada harta benda itu? Di saat-saat menentukan justru jiwa mereka terbagi, sebelah mata memandang musuh dan sebelah lagi melirik harta-harta ghanimah.

Ingin sekali Abdurrahman Al-Ghafiqi menganjurkan pasukannya untuk melepaskan diri dari ghanimah yang bertumpuk-tumpuk itu. Tapi mereka sangsi apakah mereka bisa menerima keputusan itu dengan senang hati. Maka tak ada jalan lain kecuali beliau harus mengumpulkan seluruh ghanimah di dalam tenda-tenda yang difungsikan sebagai gudang. Lalu diletakkan di belakang markas sebelum perang berkorbar.

Dua pasukan yang sama besarnya mengambil posisi berhadapan. Beberapa hari suasana terasa tegang. Diam dan penuh selidik, seperti dua gunung besar. Masing-masing mengukur kekuatan lawan dan berpikir seribu kali untuk memilih saat yang tepat untuk menyerang.

Waktu demi waktu berlalu, Abdurrahman Al-Ghafiqi melihat semangat pasukannya mulai menyala. Sepertinya kemampuan mereka dapat diandalkan dan optimis untuk menang. Maka beliau memutuskan agar pasukan Islam lebih dahulu menyerang.

Abdurrahman Al-Ghafiqi mulai menerobos pertahanan Barat dengan pasukannya laksana singa yang menerjang dengan ganas. Pihak Barat bertahan seperti benteng yang kokoh. Pertempuran berkecamuk sehari penuh dan belum terlihat tanda-tanda kemenangan pada salah satu pihak. Seandainya tak terhalang oleh gelapnya malam, niscaya mereka tak akan berhenti bertempur.

Memasuki hari kedua, pertempuran kembali berkobar. Pasukan Islam menyerang dengan gagah berani dan tekad yang kuat, namun pertahanan Barat belum pula tergoyahkan.

Perang berlangsung hingga tujuh hari berturut-turut dengan dahsyat. Pada hari kedelapan, sedikit demi sedikit barisan musuh mulai terkoyak. Harapan menangpun mulai terbayang. Laksana semburat cahaya fajar di pagi hari.
Namun dalam waktu yang sama, sekelompok prajurit Barat menyerang tempat penyimpanan harta ghanimah dan menguasai hampir seluruhnya dengan mudah. Melihat hal itu, pasukan Islam mulai goyah. Sebagian besar dari mereka mundur ke belakang untuk menyelamatkan harta ghanimah tersebut hingga merusak pertahanan barisan depan.

Dengan gigih panglima besar Abdurrahman Al-Ghafiqi berusaha mencegah para prajuritnya surut ke belakang, sambil terus menahan arus serangan dari depan dan menutupi celah-celah yang lemah. Dia bergerak cepat kesana kemari dengan kudanya yang perkasa. Di saat itulah sebatang panah mengenai tubuhnya sehingga dia terjatuh dari kuda seperti seekor elang yang terjatuh dari puncak gunung. Maka terwujudlah syahid di medan perang yang didambakannya.

Akan halnya dengan pasukan Islam, melihat panglimanya gugur, mereka semakin berantakan, sedangkan musuh kian bersemangat merangsak ke depan. Tak ada yang mampu menghentikan keganasan mereka selain malam yang mulai merayap.

Pagi harinya Karel Martel mendapati pasukan Islam sudah mundur dari medan perang Poiters. Namun dia tidak berani mengejar. Padahal seandainya dia mengejarnya pastilah dia akan berhasil menghancurkan pasukan muslimin. Dia mengira bahwa gerakan mundur pasukan Islam disengaja untuk memancing mereka ke luar medan terbuka. Ia mengira itu merupakan strategi baru muslimin yang direncanakan malam sebelumnya. Maka Karel Martel memilih untuk tetap di tempat dan merasa cukup dengan membendung kekuatan yang membahayakan itu, lalu menikmati kemenangan yang diraihnya.

Balath Syuhada menjadi peristiwa monumental dalam sejarah. Di hari itu kaum muslimin telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang terbuka lebar, bahkan kehilangan seorang pemimpin besar dan pahlawan yang tangguh bernama Abdurrahman Al-Ghafiqi. Peristiwa itu laksana ulangan tragedi Uhud yang memilukan.

Begitulah, semuanya telah menjadi sunnatullah terhadap hamba-hamba-Nya, tak ada yang kuasa merubah atau menggantinya.

Kabar kekalahan di Balath Syuhada menjadi tamparan yang menggoncangkan kaum muslimin di segenap pelosok. Duka dan pilu melanda setiap desa dan kota, memasuki setiap rumah Islam. Luka itu hingga kini masih terasa pedihnya, dan akan tetap diingat selagi masih ada seorang muslim yang ada di permukaan bumi ini. Tapi jangan Anda sangka tragedi itu hanya menyedihkan kaum muslimin saja. Orang-orang Barat yang berakal sehat pun merasakan demikian. Bagi mereka, kemenangan nenek moyang mereka atas kaum musimin di Poitiers merupakan musibah besar bagi umat manusia, khususnya merugikan Eropa dalam mencapai kemajuan.

Sebagai bukti dari pencapaian golongan ini, marilah kita simak komentar tentang kekalahan kaum muslimin di Balath Syuhada, oleh pemimpin redaksi majalah “Review Parlementer” yaitu Henry de Syambon, “Kalau saja bukan karena kemenangan pasukan Karel Martel atas pasukan Islam di Prancis, tentu negara kita tidak perlu tenggelam dalam kegelapan kebodohan pada abad pertengahan. Tidak akan seburuk itu. Dan kita juga tidak perlu mengalami pembantaian besar-besaran yang didasari oleh fanatisme sekte-sekte agama. Benar. Seandainya tidak karena kemenangan Barat pada waktu itu, Spanyol akan bisa hidup dalam kearifan Islam yang murni, selamat dari kekejaman badan-badan intelijen dan tidak terlambat menerima arus kemajuan sampai delapan abad. Meski ada perbedaan rasa dan pandangan tentang kemenangan itu, yang jelas kita benar-benar berhutang budi pada kaum muslimin akan kemajuan ilmu, seni dan budaya luhur yang mereka bawa. Kita harus mengakui bahwa kaum muslimin adalah teladan tentang kemanusiaan yang sempurna di saat kita dahulu masih menjadi manusia Barbar yang ganas.”
Diadaptasi dari Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in,terj. Abu Umar Abdillah (Pustaka At-Tibyan, 2009), hlm. 338-348.

Di Bukit UHUD..medan perang Islam Kedua..selepas Badar.

Di bukit yang tinggi..sebelah kiri ..itulah..Nabi Muhammad Saw.. dibawa berlindung oleh para sahabat..setelah baginda mengalami luka luka..

Bukit UHUD sangat tinggi dan curam..bertanda P itu..adalah BUKIT PEMANAH dan bertanda X ..itu..adalah MEDAN PERANG..
Nabi Muhammad Saw..memutuskan setelah berunding dengan para sahabat..untuk berperang di LUAR dari bandar Madinah..Baginda membawa 1000 orang sahabat..tetapi dipertengahan jalan..Nabi memeriksa PASUKAN dan mengusir 300 orang kaum MUNAFIK..tinggallah..700 orang..untuk menghadapi 3000 orang tentera KAFIRIN Arab Mekah..di ketuai oleh Khalid Al-Walid yang masih belum memeluk ISLAM.

Nabi Muhammad Saw...memilih Bukit Uhud..kerana sangat strategik..tak perlu fikir serangan dari belakang..jalan masuk ke X..akan di kawal oleh 70 orang PASUKAN PEMANAH..yang dipesan oleh Baginda..JANGAN TURUN..walau menang atau kalah..sehingga mendapat arahan selanjutnya dari Baginda.

Bagaimana pun..Taqdir Allah Swt...mengatasi segala-galanya..pusingan pertama pertempuran..tentera Islam menang BESAR..ramai tentera KAFIR Arab Mekah terkorban..oleh pasukan pemanah..maka tertinggallah..mayat mayat bersama harta benda mereka di bawah bukit..

Tentera yang berada di bawah bukit..terus berebut mengambil harta di medan perang..yang ketika itu..peraturannya perang Arab..siapa cepat..dia dapat dan dia punya..maka TENTERA PEMANAH pun ..turun ke kaki bukit..tinggal hanya 10 orang di atas bukit..

Pusingan pertempuran pertama..kekalahan itu..Khalid Al Walid mengundurkan ..tenteranya..namun beliau MENGINTIP dari jauh..apa keadaan yang berlaku pada tentera Arab ISLAM..melihat Bukit Pemanah telah hampir kosong..Khalid mengerahkan TENTERA BERKUDAnya menyerbu ke BUKIT PEMANAH..sementara tentera lain ..serbu medan bawah bukit..

Maka gugurlah 70 orang tentera Arab Islam..ramai yang HAFIZ QURAN..Nabi Muhammad Saw sendiri mengalami luka luka di muka..namun para sahabat mengorbankan diri melindungi Baginda..dan membawa Baginda berlindung ke atas bukit Uhud..

Walaupun dalam keadaan genting itu..Nabi terus perintahkan beberapa ratus tentera Islam..mengejar dan mengusir tentera Arab Kafir Mekah..kerana mereka percaya Nabi telah WAFAT. Maka tentera Arab Kafir Mekah tidak datang menyerang lagi. Setelah berehat, pada keesokan harinya..Nabi menguruskan pengkebumian jenazah para sahabat sahabatya yang gugur..baru lah Nabi dibawa pulang ke Madinah.

Bukit kecil yang rata..jauh seperti meja itu..adalah arah DATANGnya tentera Kafir Mekah..


Pagar Makam Syuhada' Perang Uhud.


Isteriku, Hjh Shabariah...berdiri di atas BUKIT PEMANAH..tapi tak bawak panah pun..


Bahagian dalam Makam Syuhada'..tiada BATU NESAN..perkuburan 70 orang sahabat ..yang gugur syahid di medan perang BUKIT UHUD ini.

Friday, 10 June 2011

Sejarah Bugis Di Tanah Melayu.

Sejarah Bugis Di Tanah Melayu
Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas
Raja Haji Ali Bin Raja Haji Ahmad

[sunting]Campurtangan orang Bugis di Johor-Riau-Lingga

Raja Kecil yang telah menawan dan memerintah Johor-Riau-Lingga sabagai Sultan Ke-12, 
mendirikan pusat pemerintahan di Siak, Sumatera pada tahun 1718. Maka, Raja Sulaiman, putera Sultan Johor-Riau-Lingga ke-11, Bendahara Paduka Tun Abdul Jalil iaitu sultan berketurunan Wangsa Bendaharayang pertama, menggunakan orang-orang Bugis dari Luwok, Makassar kecil, yang berkampung diKelang untuk mendapat balik kerajaan Johor-Riau-Lingga dari Raja Kecil.
Sebaik sahaja orang Bugis menerima persetujuan dari Raja Sulaiman, angkatan Bugis Luwok terus datang dengan tujuh buah kapal menuju ke pusat kerajaan Johor-Riau di Riau untuk menyerang. Kerajaan Johor-Riau alah di dalam peperangan ini dalam tahun Hijrah 1134. Sebagai upahan, Raja Sulaiman bersetuju untuk melantik seorang Bugis Luwok menjadi Yang Dipertuan Muda di Riau, bagi mempertahankan agama dan kerajaan Johor, Riau dan Lingga diserang dari luar dan dalam.

Setelah Riau berjaya ditawan, orang-orang Bugis Luwok balik ke Kelang untuk mengumpulkan orang Bugis untuk menyerang kerajaan Johor-Riau yang telah dapat menawan Riau kembali dari Raja Sulaiman; raja bendahara-bendahara. Sebaik sahaja mendapat tahu penawanan Riau oleh Raja Kerajaan Johor-Riau-Lingga, Bugis Luwok, dengan 30 buah kapal, menuju ke Riau untuk berperang sekali lagi. Di dalam perjalanan, mereka menawan Linggi, sebuah daerah di Negeri Sembilan yang ketika itu dibawah kuasa kerajaan Johor-Riau-Lingga. Setelah mendapat tahu tentang penaklukan itu, pasukan raja kerajaan Johor-Riau-Lingga segera ke Linggi untuk menyerang balas.
Pihak Bugis Luwok telah berpecah dimana 20 buah daripada kapal meneruskan perjalanan menuju ke Riau dan diketuai oleh tiga orang daripada mereka. Sultan Sulaiman I telah datang dari Terengganu dan turut serta memberi bantuan untuk menawan semula Riau. Dalam peperangan ini, mereka telah berjaya merampas kembali tapak kerajaan Johor-Riau di Riau dimana kemudiannya Sultan Sulaiman I mendirikan kerajaan baru Johor-Riau.

Setelah mengetahui penawanan tapak kerajaan Johor-Riau di Riau, Raja Kecil, raja kerajaan Johor-Riau-Lingga kembali ke Siak kerana baginda juga telah gagal menawan semula Linggi dari tangan Raja Sulaiman. Pada tahun 1729, Bugis Luwok sekali lagi menyerang raja kerajaan Johor-Riau-Lingga di Siak ketika Raja Kecil ingin memindahkan alat kebesaran Diraja Johor-Riau-Lingga (sebuah meriam) ke Siak. Setelah mengambil semula kebesaran Diraja tersebut, Sultan Sulaiman I kemudiannya naik takhta Johor-Riau-Lingga sebagai Sultan Johor dengan membawa gelaran "Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah" yang memerintah Johor, Riau, dan Lingga.

Sultan Sulaiman telah melantik Daeng Marewah sebagai Yamtuan Muda Riau pertama dari Sapuloh. Kemudian adik perempuannya, Tengku Tengah, pula dikahwinkan dengan Daeng Parani yang mana suaminya telah mangkat di Kedah semasa menyerang raja kerajaan Johor-Riau Sultan A Jalil Rahmat Raja Kecil Shah disana. Seorang lagi adik Sultan Sulaiman Tengku Mandak dikahwinkan dengan Daeng Chelak (1722-1760).
Dalam tahun 1730-an, seorang Bugis bernama Daeng Mateko yang berbaik dengan raja kerajaan Siak mengacau ketenteraman Kelang; negeri Melayu yang diserahkan kapada orang Bugis Luwok sabagai upah membantu Sultan Sulaiman I mendapat kembali kerajaan Johor-Riau-Lingga. Ini menjadikan Daeng Chelak datang ke Kuala Selangor dengan angkatan perang dari Riau. Daeng Mateko dapat dikalahkan dan kemudiannya beliau lari ke Siak. Semenjak itu, Daeng Chelak sentiasa berulang-alik dari Riau ke Kuala Selangor.

Ketika Daeng Chelak berada di Kuala Selangor penduduk Kuala Selangor memohon kepada beliau supaya terus menetap di situ sahaja. Walau bagaimanapun, Daeng Chelak telah menamakan salah seorang daripada puteranya, iaitu Raja Lumu, datang ke Kuala Selangor. Waktu inilah datang rombongan anak buahnya dari Riau memanggil Daeng Chelak pulang ke Riau dan mangkat dalam tahun 1745.

[sunting]Raja Lumu (1742-1778)

Tuhfat alNafis
Daeng Lumu adalah punca kerajaan awal di Kuala Selangor. Daeng Lumu dilantik menjadi Yang DiPertuan Kelang pertama, dan Daeng Loklok dilantik menjadi Datuk Maharaja Lela.

Sultan Iskander Zulkernain (1752-1765), Raja Kerajaan Perak ke-15 pun menyambut utusan dari Daeng Lumu di Kuala Bernam sebagai pertemuan dengan baginda. Ketibaan Daeng Lumu disambut dengan penuh istiadat raja. Setelah semua ujian itu tidak mendatangkan apa-apa bencana terhadap Daeng Lumu, baginda Sultan Iskander Zulkernain pun mengesahkan perlantikan tersebut; setelah Sultan Sulaiman I, Raja Kerajaan Johor-Riau-Lingga menolak permohonan Bugis Luwok Diraja sabagai Raja Kelang. Pertabalan penuh sejarah itu dilakukan di Pulau Pangkor dalam tahun 1756. Selesai sahaja pertabalan, Raja Lumu pulang ke Kuala Selangor.
Itulah Raja Selangor yang pertama bersemayam di atas Bukit Selangor yang dikenal dengan nama "Bukit Malawati". Menurut Tuffatul al Nafis karangan Almarhum Raja Ali Al Haji, Riau, disitu ketika Tengku Raja Selangor (Raja Lumu) pergi bermain ke Pulau Pangkor, Raja Lumu dijemput oleh Yang DiPertuan Perak untuk mengadap. Kemudian Raja Lumu pun berangkat pulang ke Kuala Selangor.

Kemangkatan Raja Lumu meninggalkan empat orang anak, iaitu Raja Ibrahim, Raja Nala, Raja Punuh dan Raja Sharifah. Baginda juga telah melantik seorang Bugis bernama Daeng Loklok bergelar Datuk Maharaja Lela Husain. Seorang daripada anak perempuannya bernama Cik Long Halijah berkahwin dengan Raja Ibrahim, putera Raja Lumu dan juga Raja Selangor Kedua.
Raja Lumu mangkat dan dikebumikan di atas Bukit Selangor dan dinamakan "Marhum Salleh". Baginda memerintah kerajaan Daeng Lumu adalah punca kerajaan awal di Kuala Selangor. Daeng Lumu dilantik menjadi Yang DiPertuan Kelang Pertama, Daeng Loklok dilantik menjadi Datuk Maharaja Lela.
Kemangkatan Raja Lumu meninggalkan empat orang anak, iaitu Raja Ibrahim, Raja Nala, Raja Punuh dan Raja Sharifah. Baginda juga telah melantik seorang Bugis bernama Daeng Loklok bergelar "Datuk Maharaja Lela Husain". Seorang daripada anak perempuannya bernama Cik Long Halijah berkahwin dengan Raja Ibrahim, putera Raja Lumu dan juga Raja Selangor kedua. Raja Lumu mangkat dan dikebumikan di atas Bukit Selangor dan dinamakan "Marhum Salleh". Baginda memerintah dari tahun 1743 (1756) hingga 1778.

[sunting]Sultan Ibrahim (1778-1826)

Raja Ibrahim, putera sulung Sultan Salehuddin, dilantik menjadi Sultan Selangor kedua, adiknya Raja Nala dilantik menjadi Raja Muda dan dua orang yang lain menjadi Orang Besar bergelar di Selangor. Sultan Ibrahim dianggap seorang sultan yang berani berhati waja di samping mempunyai pengalaman yang melalui percampurannya semasa dari kanak-kanak lagi.
Bunga peperangan dan perang kecil sentiasa berlaku antara orang Bugis dengan orang Belanda sejak tahun 1740-an lagi. Api ini terus menyala selepas 14 Januari, 1784. Peperangan inilah yang mengakibatkan mangkatnya Raja Haji oleh Belanda, kemudiannya dimakamkan di Teluk Ketapang digelar "Marhum Ketapang".
Kemangkatan Raja Haji menimbulkan kemarahan Sultan Ibrahim menyebabkan Selangor terlibat secara langsung dari persengkitaan antara Belanda dengan Johor itu. Sebagai persiapan berjaga-jaga dari serangan Belanda terhadap Selangor, Sultan Ibrahim telah membina dua buah kota. Kota batu atas Bukit Selangor dan kota tanah di atas Bukit Tanjung.

Sangkaan ini tepat, pada 2 Ogos 1784, Belanda meyerang dan menakluki kedua-duanya kota tadi. Sultan Ibrahim dengan orang-orangnya lari ke Ulu Selangor, lalu ke Pahang menemui Bendahara Ab. Majid meminta bantuan.

Sejarah : Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (1808 - 1873 M).


Ali Haji bin Raja Haji Ahmad

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (k.k. 1808 - k.k. 1873) atau lebih dikenali sebagai Raja Ali Haji, ialah ulama, ahli sejarah, sertapujangga Bugis, dan terutamanya pencatat pertama dasar-dasar tatabahasa bahasa Melayu melalui Pedoman Bahasa,  buku yang telah menjadi piawai bahasa Melayu. Bahasa Melayu baku inilah yang ditetapkan sebagai bahasa Indonesia, bahasa rasmi negara Indonesia, dalam Kongres Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928.

[sunting]Latar belakang

Dilahirkan di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, Raja Ali Haji merupakan keturunan kedua (cucu) kepada Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kesultanan Lingga-Riau. Mahakaryanya, Gurindam Dua Belas,  yang diterbitkan pada tahun 1847 menjadi pembaharu arah aliran kesusasteraan pada zamannya. Raja Ali Haji yang berpendidikan Arab masih mengekalkan bahasa Melayu Klasik yang banyak mempengaruhi oleh perkataan Arab dan struktur Arab.
Pada tahun 1822 sewaktu Raja Ali Haji masih kecil, beliau pernah dibawa oleh orang tuanya ke Betawi (Jakarta). Ketika itu bapanya, Raja Haji Ahmad, menjadi utusan Riau untuk menjumpai Gabenor Jeneral Baron van der Capellen. Berulang-ulang kali Raja Haji Ahmad menjadi utusan kerajaan Riau ke Jawa, waktu yang berguna itu telah dimanfaatkan oleh puteranya Raja Ali untuk menemui banyak ulama, untuk memperdalam ilmu pengetahuan Islamnya, terutama ilmu fiqh. Antara ulama Betawi yang sering dikunjunginya oleh beliau ialah Saiyid Abdur Rahman al-Mashri. Raja Ali Haji sempat belajar ilmu falak dengan beliau. Selain dapat mendalami ilmu keislaman, Raja Ali Haji juga banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan hasil pergaulan dengan sarjana-sarjana kebudayaan Belanda seperti T. Roode dan Van Der Waal yang kemudian menjadi sahabatnya.
Kira-kira tahun 1827/1243H Raja Ali Haji mengikut bapanya Raja Ahmad pergi ke Makkah al-Musyarrafah. Raja Ahmad dan Raja Ali Haji adalah di antara anak Raja Riau yang pertama menunaikan ibadah haji ketika itu. Raja Ali Haji tinggal dan belajar di Mekah dalam jangka masa yang agak lama. Semasa di Mekah Raja Ali Haji sempat bergaul dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Beliau sempat belajar beberapa bidang keislaman dan ilmu bahasa Arab dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani yang ketika itu menjadi Ketua Syeikh Haji dan sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Melayu di Mekah. Beliau bersahabat dengan salah seorang anak Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari iaitu Syeikh Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Barangkali ketika itulah, Raja Ali Haji sempat mempelawa ulama yang berasal dari Banjar itu supaya datang ke Riau, dan jika ulama tersebut bersetuju untuk datang, ulama itu akan dijadikan Mufti di kerajaan Riau. Dalam perjalanannya ke Mekah itu, Raja Haji Ahmad dan puteranya Raja Ali Haji pula mengambil kesempatan berkunjung ke Kaherah (Mesir), setelah itu kembali ke negerinya Pulau Penyengat, Riau.
Pada zaman dahulu, kerajaan Riau-Johor memiliki ramai ulama antaranya Habib Syaikh keturuan as-Saqaf, Syeikh Ahmad Jabarti, Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minkabawi, Syeikh Abdul Ghafur bin Abbas al-Manduri dan ramai lagi. Tambahan lagi, saudara sepupu Raja Ali Haji yang bernama Raja Ali bin Raja Ja’far menjadi Yamtuan Muda Kerajaan Riau VIII (tahun 1845-1857) menggantikan saudaranya Raja Abdur Rahman bin Raja Haji Yamtuan Muda Kerajaan Riau VII (taun 1833-1845). Apabila Raja Ali Haji pulang dari Mekah beliau disuruh oleh saudara sepupunya itu untuk mengajar agama Islam, Raja Ali bin Raja Ja’far juga turut belajar dengan Raja Ali Haji.
Setelah sekian lama, Raja Ali Haji terjun ke bidang pendidikan. Beliau dikatakan telah mengajar Ilmu Nahu, Ilmu Sharaf, Ilmu Usuluddin, Ilmu Fiqh, Ilmu Tasauf dan lain-lain. Raja Ali Haji mempunyai kepakaran yang tinggi dalam ilmu pengetahuan Islam, bahkan beliau memang seorang ulama besar pada zamannya.
Ramai anak murid Raja Ali Haji yang telah menjadi tokoh terkemuka, di antaranya Raja Haji Abdullah yang kemudian menjadi Yamtuan Muda Riau IX, tahun 1857-1858, Saiyid Syaikh bin Ahmad al-Hadi.
Dalam ilmu syariat, Raja Ali Haji berpegang teguh dengan Mazhab Syafie, dalam iktikad berpegang akan faham Syeikh Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi, sedang dalam amalan tasauf beliau adalah seorang penganut Tarekat Naqsyabandiyah dan mengamalkan Selawat Dalail al-Khairat yang dibangsakan kepada Saiyid Sulaiman al-Jazuli, yang diamalkan secara beruntun sejak datuk-datuknya terutama Raja Haji as-Syahidu fi Sabilillah yang ketika akan meninggalnya masih tetap memegang kitab selawat tersebut di tangannya, sementara pedang terhunus di tangannya yang satu lagi.
Raja Ali Haji meninggal dunia di Riau pada sekitar tahun 1873. Beliau ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan negara pada tahun 2006.

[sunting]Karya

Bukunya yang berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa  merupakan kamus loghat Melayu Johor-Pahang-Riau-Lingga penggalan pertama serta kamus ekabahasa yang pertama di Nusantara. Beliau juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, serta Syair Sultan Abdul Muluk.
Raja Ali Haji juga patut dijasai kerana penulisan sejarah Melayu. Bukunya yang berjudul Tuhfat al-Nafis ("Bingkisan Berharga" tentang sejarah Melayu), walaupun sangat lemah dari segi penulisan sejarah kerana tidak memberikan sebarang sumber dan tahunnya, dapat dianggap sebagai suatu penggambaran peristiwa-peristiwa Melayu bersejarah yang lengkap. Sesetengah orang juga berpendapat bahawaTuhfat  dikarang terlebih dahulu oleh Raja Ahmad, ayahnya yang juga merupakan sasterawan, dengan Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan undang-undang, Raja Ali Haji juga menulis Mukaddimah fi Intizam  (undang-undang dan politik). Selain itu, beliau juga merupakan penasihat kerajaan.
2.    Tuhfat al-Nafis 1865